Hikayat Intelektual Sang Katak



Jalur-jalur utama dalam peta akademik dunia mutakhir hari ini bisa dilacak hanya dengan pukulan-pukulan bertenaga kecil pada huruf-huruf di papan ketik telepon pintar atau laptop. Bantuan teknologis mesin pencari khusus untuk publik akademik seperti Google Scholar dan Microsoft Academic memungkinkan pelacakan hampir setiap terbitan, buku-buku, jurnal, dan artikel dari sudut-sudut dunia yang telah disimpan di internet dilakukan dalam sekejap.

Keberadaan laman berbagi dokumen untuk para peneliti seperti researchgate dan academia.edu, perpustakaan-perpustakaan maya yang menyediakan ribuan buku elektronik seperti library genesis dan arsip-arsip digital milik pusat-pusat kajian yang bisa diakses publik semakin memperingan kerja literasi akademikus mutakhir. Teknologi komunikasi mutakhir memungkinkan lahirnya akademikus 2.0 yang bisa saja menulis dan menghasilkan artikel ilmiah dan penelitian dari sebuah ruang kerja yang nyaman dengan akses internet kenceng.

Hubungan akademikus dan mesin macam ini dengan kesedihan yang terasa sekali dikatakan oleh Ben Anderson dalam otobiografinya, Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2016). “Berkurangnya kerepotan memang suatu berkah, tapi perlu diingat bahwa mutiara dihasilkan oleh tiram yang repot bersusah-payah, bukan tiram riang-gembira dengan laptop.” (hlm. 193)

Terbitnya buku ini, meski sudah dinikmati oleh pembaca Jepang sejak 2009, seolah-olah menjadi salam perpisahan bagi pembaca-pembacanya di Indonesia. Ben Anderson koit 13 Desember tahun lalu. Barangkali, dialah peneliti-dosen yang bakal paling dikenang oleh orang-orang yang sempat jumpa dirinya. Bukan cuma karena kecerdasannya, tetapi juga kerendahhatian, kehangatan, dan kejenakaan yang gak ketulungan itu.

Salah satu kelakar Ben terbaca pada terjemahan karya monumentalnya, Imagined Communities. Pada catatan kaki nomor 29, ia sempat menambahkan bahasa perasaan  a la muslim Indonesia saat membaca berita-berita perusak akhlak islami: ‘Tapi para ilmuwan Jepang memberitahu saya bahwa penggalian-penggalian beberapa makam kerajaan purba yang baru-baru ini dilakukan telah memunculkan petunjuk kuat bahwa keluarga kekaisaran Jepang mungkin berasal dari—astagfirullah!—Korea.” (2008: 147) Karya-karya Ben Anderson senantiasa dipandang mengejutkan, cermat, dan mampu melihat hal-hal sepele yang ternyata vital, terutama ihwal bahasa. Kualitas peneliti seperti ini mustahil lahir hanya dari dinding-dinding universitas yang formal-birokratis-administratif.

Dalam otobiografi akademis yang berhias banyolan di sana-sini ini, kita membaca pengaruh erat teknologi komunikasi, kultur sosial-budaya, dan kultur akademik yang membentuk kepribadian, kepekaan, dan keluasan daya pikir Ben Anderson sebagai seorang akademikus. Lahir tahun 1936, Ben Anderson cilik dibesarkan di Irlandia oleh radio BBC yang menyiarkan pembacaan novel-novel klasik, sedikit sekali film Hollywood, dan teater keliling yang mempertunjukkan drama Shakespeare, Wilde, dan lainnya.
Di rumah, ia dikelilingi oleh buku-buku koleksi pribadi orang tuanya yang beragam dan menakjubkan. Keberuntungan terbesar Ben, menurutnya adalah saat ibunya menyuruhnya mempelajari bahasa Latin alih-alih Irlandia. Sejak itu, ia menyadari bakatnya dalam hal bahasa. Kelak, koleksi buku yang paling dia sukai adalah rak yang berisi jejeran kamus dari berbagai bahasa.

Tanpa televisi, komputer, dan internet, Ben Anderson melewatkan masa remaja di Eton, sekolah menengah unggulan di Inggris. Sebagai jajaran murid paling cerdas di sekolah, ia memiliki kebebasan membaca apa saja. Kurikulum pendidikan di eropa mengharuskan Ben Anderson mempelajari sejarah kuno, menghafal puisi-puisi berbahasa Inggris, Perancis, Rusia, juga menulis dan menerjemahkan puisi dengan bahasa-bahasa itu. Saat kuliah di Cambridge, kepekaan sinematiknya dibentuk oleh film-film hitam putih Jepang dan film revolusioner era 1920an dan 1930an. Persentuhannya dengan ego nasionalisme semu dan rasisme yang membentuknya sebagai orang kiri terjadi di sini.

Peruntungan intelektual membawa Ben Anderson bertemu George McTurnan Kahin, pembimbing yang paling berpengaruh terhadap orientasi akademik dan politisnya. Di Cornell, ia menjadi akademikus “nyeleweng” dengan menerabas kebekuan dan keangkuhan tembok akademis. Sebagai peneliti, tubuhnya senantiasa bergerak, tangannya menjamah buku-buku, ia melihat, mendengar, dan berperistiwa langsung dengan orang-orang.

Ben mengandaikan, akademikus laksana katak yang hidup di dalam tempurung, terkungkung oleh tembok-tembok akademis yang sempit dan mematikan daya pikir. Sebagai katak, Ben Anderson telah berhasil hidup di luar tempurung dan melihat langit biru yang luas. Hidup di Luar Tempurung adalah buku yang juga menohok kultur akademik feodalistik yang masih melekat di Indonesia.[]



Komentar

Postingan Populer