Yang Dititipkan Pada Benda-Benda
Benda-benda pun tak ingin dirinya cuma jadi tempat titip kasih, rindu, sedih. Tetapi seringkali benda-benda lebih layak dititipi rupa-rupa rasa ketimbang menitip pada kerentanan manusia. Benda-benda tak punya telinga, tetapi mereka sering bisa menjadi pendengar lebih baik ketimbang dua telinga manusia. Meski tak berhati, mereka berserah menampung duka yang dititipkan padanya. Dinding-dinding retak, kolong kursi dan meja berdebu, pagar tanaman yang lupa dipotong, piring-piring kosong pelan-pelan berbisik tentang rumah yang makin sepi, tawa yang palsu, raga yang lelah, Ibu yang lupa. Setidaknya masih ada masa kanak yang tak ternoda di mobil-mobilan, pesawat kertas, celoteh tentang layang-layang sebesar rumah, dan sepiring nasi dengan telur goreng di atasnya.
Kesedihan demi kesedihan. Apa rupamu, kesedihan.

Komentar
Posting Komentar