Hari Wisuda Lelaki Paruh Baya
Pak Solimin, lelaki
separuh abad, tinggal di desa belum terlacak Peta Google, Watubonang, nun di
ujung barat Jawa Timur. Rumah bercat hijau pucat di pojok pertigaan, RT 3 RW 1,
di depan cakruk dan warung Mbah Sadiyem. Tiap pagi, Pak Solimin terjaga pukul
tiga atau empat. Udara masih menusuk kulit saat lelaki yang mulai keriput di
sana-sini itu menuju teras samping usai sembahyang. Tangannya kokoh membawa
ulenan tanah liat dengan argo. Ia memasukkan bubur tanah liat setangkup demi
setangkup ke cetakan terbagi ke 10 persegi panjang. Satu jam, ratusan batu bata
basah berbaris rapi.
Subuh belum tuntas benar
saat Pak Solimin menyela motor tua menuju sawah di tepi hutan. Ia akan ndhangir, mopok, ndhaut, matun, atau ngrabuk pari saat musim hujan, dan
merawat penuh kasih jagung, kacang hijau, atau kacang tanah bila musim kemarau.
Pak Solimin pulang saat matahari rada meninggi. Motor harus sampai rumah
sebelum pukul delapan untuk dipakai istri ke SD tempat dia jadi guru honorer.
Saban sore, Pak Solimin
mencari rambanan—daun-daun lamtoro, peniti, sepatu, atau gembilina (jati
putih)—di sekitar rumah buat pakan kambing. Ayam dan bebek kebagian cacahan
kangkung atau batang pisang muda bercampur bekatul. Hari demi hari, Pak Solimin
melagukan hidup dengan cangkul, arit, cetakan batu bata, songkok dan sajadah. Ia
masih petani kusyuk meski sesekali mengeluh saat gagal panen. “Jenenge lagi diuji,” kata Pak Solimin
selalu.
Di kota Bengawan, anak
wedok menempuh pendidikan tinggi. Sebulan sekali, anak wedok pulang, menjemput
sangu dan beras. Pak Solimin menyambut dengan pelukan. Selama dua tiga hari, ia
akan menikmati oseng sawi atau kangkung anaknya yang sering kasinen (konon pertanda ingin rabi). Malam-malam, berterang lampu 5
watt, Bapak-anak wedok sering berbincang sambil kesik bata yang sudah kering.
Pak Solimin memberi
warisan kata di sela rasan-rasan prahara rumah tangga tetangga, kabar
pernikahan, kematian, dan utang. Petani tua itu tak bisa menyitir satu sajak
Wiji Thukul, Meditasi Membaca Buku: “Buku membuat aku jadi pribadi sendiri/ Aku
terpisah dari orang-orang/ Yang bekerja membangun dunia/ Dengan pukul palu
peluh dan tenaga/ Aku merasa lebih mulia/ Karena memiliki pengetahuan dan mampu
membeli/ Aku merasa plus dan tak rendah diri/ Lebih dari yang lain/ Biarpun tak
menindakkan apa-apa” (Para Jendral
Marah-marah, kumpulan puisi Wiji Thukul dalam pelarian), atau mengejek anak
wedok dengan Sajak Seonggok Jagung-nya
Rendra. Sajaknya adalah batu bata tertumpuk rapi di samping rumah, pasukan padi
tegak menghijau, embikan terima kasih kambing-kambing.
Warisan katanya tak bisa bereferensi
Pangeran Cilik, Seratus Tahun Kesunyian, The Storied Life of A. J. Fikry, Rumah Kertas, Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, Winnie The Pooh, atau biografi para intelektual Indonesia
menarasikan kehidupan mahasiswa bergelimang buku-buku. Referensi itu tubuh yang
liat, kerut-merut di wajah, rimbunan uban, puluhan tahun merantau di Kalimantan
dan Brunei, menjadi suami dan Bapak dua anak di desa.
Seminggu lalu, anak wedok pulang
mengabarkan akan wisuda, tapi tak ingin ikut. Pak Solimin mengerti anak wedok
satu itu tak mau berurusan dengan segala ritual semu mengesahkan gelar sarjana.
Tapi, ini anak wedok satu-satunya. Pak Solimin diam-diam ingin menyaksikan anak
wedok memakai toga. Anak wedok merasa, lalu memutuskan turut prosesi wisuda
tanpa sewa studio foto, fotografer, atau jasa tata rias panggilan. Keterlaluan
serius berfoto dan menata wajah membuat orang-orang telah kehilangan banyak kesakralan
peristiwa.
Sabtu, 16 Desember 2017, jam
4.30, Pak Solimin menuju Terminal Seloaji, mengenakan batik terbaik, bersepatu.
3 jam berlalu, Pak Solimin turun dari bus di depan gerbang melengkung bertulis
Universitas Sebelas Maret. Ini kedua kali Pak Solimin mampir di kampus anak
wedok belajar, apa dulu jurusannya dia pernah bilang... Pokoknya kalau lulus
jadi wartawan. Kaya sing neng tipi-tipi
kae, lho.
Pak Solimin menapak
langkah sepanjang trotoar mulus, menuju gedung megah di hadapan. Mobil-mobil berjubel
seperti ternak memenuhi jalan. Kalau mobil-mobil ini sapi-sapi miliknya, wah, Pak
Solimin bakal sugih ngilak-ilak, nggo nglunasi utang, turah-turah.
Lelaki tua dari desa memandang
kampus menjelma Pasar Badegan di hari
Wage atau Legi. Aneka warung
tenda menawarkan mi ayam, bakso, soto, tahu kupat, nasi kucing, gorengan, dan
es teh. Jika tak sempat sangu hadiah, orang-orang tinggal memilih aneka buket
bunga, buket makanan ringan, boneka bertoga, kaktus, sukulen, atau kalau mau
nekat, boleh memilih-milih daster yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan
sekitar Gedung Rektorat dan Auditorium.
Studio foto dadakan berlatar
belakang gambar buku-buku di rak menawarkan dokumentasi kilat. Pak Solimin
berangan berpotret di sana, bersanding dengan anak wedok yang sudah sarjana.
Potret berbingkai tentu sedap digantung di dinding rumah. Para tetangga yang
singgah dan menatap potret mesti turut girang, si Denok akhirnya mentas dari sekolah, bekerja, dan bisa
bantu-bantu keluarga. Pak Solimin masih percaya pada kekuatan foto di dinding,
bukan Instagram, Facebook, Twitter, atau Whatsapp yang tidak ia kenal.
Pak Solimin, lelaki
berijazah Paket B, hanya bisa meraba rasanya kuliah dan menjadi sarjana. Keluhan
kadang terdengar saat istri yang berkuliah lupa membuatkan teh atau memasak.
Anak wedok yang diasuh kota sejak SMP, sering tak cekatan tandang gawe: isah-isah,
umbah-umbah, nyapu, masak, golek rambanan. Ia ingat omongan si Jum saat
anak wedok itu turun ke sawah, ikut tandur
seminggu lalu, “Biasane tangane
cekelane pulpen, saiki kon bluthut endhut.” Simbok-simbok itu terkekeh.
Kala anak wedok pulang,
Pak Solimin sering mendengar lagu-lagu berbahasa Inggris dari laptop, benda
yang hanya bisa dia tonton. Saat ditengok, anak kuliahan itu sedang mengetik,
menggambar, atau tidak bergerak menatap satu buku. “Bocah kok, gur bukuuu ae,” kata si Katiyem, tetangga belakang
rumah saat menemukan anaknya dari balik jendela terbuka.
Pak Solimin telah janjian
dengan istri buat syukuran, genduren,
mengundang para tetangga bersantap bersama, mendoakan dan memberi restu bagi
anak wedok, calon wartawan. Oh, Pak Solimin ingat anaknya sempat pamit ke Solo
tidak untuk menjadi wartawan, tetapi penulis dan tukang gambar. Pak Solimin
tidak begitu mengerti. Itu pekerjaan asing dan sulit dijelaskan pada para
tetangga. Mungkin ini pengaruh teman-teman bergaulnya di Solo, terutama siapa
itu, Bandung, Bandung, yang sering diceritakan sebagai penulis nasional,
rumahnya buku-buku. Kerjaannya, ya, menulis itu. Byuh. Apa anak wedoknya salah pergaulan, sampai emoh melamar pekerjaan seperti sedikit
teman-temannya di sini yang kuliah dan sudah nyambut gawe, duwe gaji...
Biasanya, lelaki tua cuma
bisa turut girang saat anak wedok pulang membawa koran yang memuat tulisannya,
meski ia tak pernah membaca. Ra mudheng. Atau
saat bocah itu mengabarkan akan menerbitkan buku, mendapat pesanan gambar... Ia
cuma tahu anaknya sedang bekerja. Kota tampaknya telah memiliki segala yang dia
butuhkan untuk hidup dan menempa hari depan. Pak Solimin meragu apakah anak
wedoknya mau bali mbangun desa usai
wisuda hari ini...
Lalu,
berdirilah anak wedok itu di hadapannya. Mengenakan rok kebaya milik ibunya,
tersenyum manis memakai toga. Sarjana tenan,
disahkan oleh pacul, palu, arit, cetakan bata, tulisan di koran, dan warisan
kata dari buku berusia setengah abad bernama Pak Solimin.x

Komentar
Posting Komentar