Dari Rupa ke Suara



Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
—Amir Hamzah, Padamu Jua  


Puisi memiliki naluri penyuguhan sunyi. Penyair memang bertarung dengan diksi, melakukan pengetatan bahasa begitu rupa agar tiga puluh paragraf cerita muat dalam dua belas, bahkan satu larik puisi saja. Puisi tidak membuat dirinya selesai saat kata terakhir terbaca. Malah, gaung suaranya sering menerakan jagat makna tak berkesudahan ditulis dalam satu esai. Seperti kata Sapardi (2009: 153), sebermula adalah kata/ baru perjalanan dari kota ke kota. Mulanya satu larik puisi, lalu kita bermenung satu pagi. Tetapi, kebendaan puisi itu sendiri, yang hadir pada pembaca melalui sebentuk buku tercetak dan tata letak tertentulah yang secara radikal mengubah cara kita berpuisi dan menikmati puisi.

Puisi bermula bunyi yang tak sunyi. Puisi-puisi dahulu warisan budaya lisan yang dinyanyikan. Kita mengingat pelajaran ciri-ciri puisi lama yang diterima saat sekolah dasar. Puisi itu memiliki aturan jumlah kata dalam satu baris, jumlah baris dalam satu bait, persajakan (rima), banyak suku kata tiap baris, dan irama. Aturan ini tak lain adalah cara ingatan budaya lisan bekerja. Aturan-aturan terutama ditujukan bagi sistem pendengaran. Kata-kata sama yang terulang berkali-kali lebih mudah merasuk ke ingatan. Puisi-puisi masa lalu mengalami penularan dari lisan penyair di jalan-jalan melalui pertunjukan dan peristiwa-peristiwa sakral yang melibatkan puisi sebagai doa atau mantra.

Puisi baru surut ke kesunyian sejak mulai beralih dari budaya lisan dan budaya tulis. Sebelum percetakan, puisi berpindah ke manuskrip bertulisan tangan. Manuskrip itu hanya bertindak sebagai dokumentasi, memindahkan puisi-puisi yang mula dilisankan ke atas perkamen, daun lontar, atau batu tulis. Tulisan masih bersifat teknis pendukung budaya lisan. Pemindahan ke media tertulis inilah yang memungkinkan analisa pada ciri-ciri puisi lama yang bertaut erat dengan pendengaran.

Dikatakan oleh Walter J. Ong dalam Kelisanan dan Keaksaraan (2013), tulisan adalah temuan teknologi manusia yang paling radikal dan penting, meski agak terlambat dibanding katakanlah, gambar. Manusia menggambar ribuan tahun lebih awal ketimbang menulis. Tulisan “memindah ujaran dari dunia lisan-pendengaran ke dunia indrawi yang baru, yakni dunia penglihatan, tulisan mengubah pula ujaran dan pemikiran.” Pada zaman Plato, peristiwa membaca sangat mungkin jadi sesuatu yang aneh. Seseorang berada di bawah pohon, menghadapi sebentuk tulisan, tetapi ia sama sekali diam. Tubuh dan tangan tak bergerak sebagaimana manusia zaman itu bersentuhan dengan kata dalam retorika lisan. Secara nyata, seorang pembaca benar-benar tidak sedang melakukan apa pun karena tubuhnya yang diam. Di hadapan kata-kata tertulis, kedua pasang mata yang menjadi pintu gerbangnya pun tak terlihat sedang bekerja.

Daripada kata-kata terucap yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, parsitipatoris dan empatif, kata-kata tertulis berkebalikan dengan semua itu. Tulisan mengantarkan manusia pembaca bukan ke luar diri, namun melongok, memasuki dirinya sendiri. Tulisan mengubah struktur kesadaran manusia dan memberi efek-efek yang melampaui kata-kata terlisankan. Ia meniscayakan penjelajahan pada berbagai pemikiran, menyembulkan dan memperkuat individualisme dan objektifitas. Membaca itu peristiwa yang amat individualistik, betapa pun satu tulisan yang sama dihadapi oleh sepuluh orang. Yang terjadi, mereka tidak sedang berhadapan dengan sesama pembaca, melainkan menghadapi tulisan dengan segala pemikiran yang ada di dalamnya secara individu dan amat privat. Pergulatan pikiran hanya terjadi antara satu orang pembaca dengan tulisan di hadapannya.

Pada awal kemunculannya, tulisan barangkali terpandang sebagai musuh manusia. Tulisan berasal dari luar diri manusia, asing, dan mengancam. Ia semakin membuat banyak mulut-mulut terdiam dan mulai menarik diri dari lingkungan komunal. Tulisan membuat manusia mungkin menuliskan segala hal dengan kata-kata lebih kompleks dan rumit, reflektif dari dirinya sendiri tanpa merasa khawatir kehilangan kata-kata itu. Kata-kata tak lagi tersimpan dalam ingatan. Kertas dan penalah yang melakukan itu untuk mereka. Kata-kata tertulis melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh kata-kata terlisankan: mengedit pikiran.

Produksi sastra tak lagi bergantung pada cara-cara untuk mengakomodasi ingatan melalui pendengaran. Puisi semakin memasuki alam kesunyian kata-kata tertulis dan tidak lagi mengikuti aturan-aturan puisi lama. Ia membentuk diri sebagai puisi baru dengan satu aturan: saat penyair menyebut tulisan itu puisi, bagaimana pun bentuknya, itu tetap puisi. Puisi-puisi yang lahir pada zaman budaya tulis semakin susah untuk dihapal kata demi kata. Dua stanza puisi Amir Hamzah yang tercuplik di atas secara mutlak adalah produk budaya tulis. Hanya penyair keaksaraan yang sanggup menulis dengan pasti: Hanya kata merangkai hati.

Produksi pemikiran budaya tulis jauh melampaui budaya lisan dan menggandakan diri dalam jumlah mengerikan melalui percetakan. Tulisan dan teknologi tulisan cetak mencetak inilah yang semakin radikal mengubah kesadaran dan mata pikir manusia.  “Tulisan telah menyusun ulang kata ujaran yang awalnya lisan ke dalam ruang visual. Cetakan melekatkan kata itu ke dalam ruang secara lebih mutlak,” lanjut Ong. Kesadaran visual inilah yang melahirkan kesadaran perlunya judul, daftar isi, indeks, dan tulisan untuk sebuah buku mesti ditata demi godaan pada mata. Tulisan yang dulu didominasi pendengaran telah beralih ke penglihatan.

Puisi, lalu, bukan lagi hanya kata-kata tercetak dan menemukan makna saat dibaca atau dibunyikan. Huruf-huruf yang diperindah, spasi, jeda antarbaris, dan semua itu dicetak di atas ruang putih telah memberi pengaruh yang tidak sepele pada penghadiran makna puisi. Kata Ong lagi, “Spasi cetak tidak hanya memengaruhi imajinasi ilmiah dan filosofis, tetapi juga imajinasi sastra, yang menunjukkan sebagian sisi rumit kehadiran spasi cetak bagi psike.”

Dalam jagat puisi, muncullah puisi konkrit yang disebut Ong sebagai “puncak interaksi kata-kata yang dibunyikan dan spasi tipografi.” Puisi konkrit tak hanya tersusun dalam bentuk kalimat-kalimat dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Kata-kata itu ditata dalam cara dan urutan tertentu di atas ruang putih membentuk sebuah rupa. Kelahiran puisi konkrit yang tidak lain disebabkan oleh bermulanya dominasi visual daripada audio pun menuai pertarungan. Pertarungan itu sempat terekam di majalah Horison edisi 11-12, 1978. Di tulisan Puisi Konkrit: yang Bunyi dan yang Rupa, Priyantos menerakan, persentuhan puisi dan rupa membagi puisi ke dua kutub: kutub suara dan kutub rupa. Ada penyair-penyair yang ingin memurnikan puisi. Hakikat puisi adalah bunyi. Desau angin menggesek dedaunan, ricik hujan, langkah kaki, hanya bisa didengar lewat telinga, bukan huruf-huruf di atas kertas. Sayangnya, bagaimanapun bentuk kemurnian bunyi dalam puisi yang berusaha dihadirkan oleh penyair di pihak ini, ia tetap saja tidak terbebas dari belenggu bunyi itu dalam huruf-huruf di atas kertas cetakan.

Penyair dalam kutub rupa menganggap puisi tercetak tidak lain adalah “penjajahan bahasa bunyi dalam dunia huruf.” Di sinilah puisi konkrit menemu tempat. Puisi konkrit ingin membebaskan perkosaan atas “nilai total dari sebuah bidang datar dan kepribadian dari sebuah huruf” yang dilakukan oleh tulisan-cetak. Maka, puisi-puisi konkrit melakukan perlawanan terhadap cetakan dengan mencipta kata-kata yang membentuk rupa. Puisi konkrit akan sulit dimengerti tanpa melibatkan keseluruhan visualitas yang ada di puisi.

Di Indonesia, kita mengingat Sutardji Calzoum Bachrie dengan kredo puisi: mengembalikan kata pada mantra. Di pengantar buku O, Amuk Kapak (1992), Sutardji lantang menyatakan, “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.”

Ia mengaku (berhasil) membiarkan kata-kata bebas dan menemukan kebebasannya.

“Kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir dan berkali-kali menunjukan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan diri sendiri dengan bebas. Saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.”

Pembebasan itu dilakukan Sutardji dengan menyusun kata-kata dalam spasi tertentu agar terlihat bersebaran dan mereka, kata-kata itu memilih tempatnya sendiri. Pada apa yang dilakukan oleh Sutardji,  kita masih sulit mengakui puisi itu sebagai mantra, apalagi bebas dari pengertian dan ide. Bentuk puisi Sutardji sendiri sudah membawa ide kata atau puisi sebagai benda. Mengembalikan kata pada mantra di atas kertas tercetak tetap tidak membawa puisi itu ke mana-mana kecuali menemu bentuk baru yang mirip ujaran mantra, bukan mantra. Mantra tetap suara.

Perjalanan puisi dari bunyi ke sunyi, dari sunyi (yang disebabkan oleh percetakan) ke bunyi memberi ruang makna yang semakin meluas pada diri puisi. Ia tidak lagi dapat didaku sebagai kata-kata. Dalam perkembangan kapitalisme cetak mutakhir, puisi telah kawin dengan berbagai elemen percetakan canggih yang berusaha menjelaskan pribadi puisi lewat ruang visual. Puisi tak lagi dari sunyi ke bunyi, tetapi dari rupa ke bunyi. Visualitas menjadi harga mutlak yang harus dibayar untuk memeroleh simpati masyarakat digital modern.

Puisi tidak hanya merupa dalam susunan kata-kata yang membentuk rupa seperti dalam puisi konkrit. Wajah buku puisi mutakhir semakin elok oleh kesadaran visual yang penuh dari para penggarapnya. Rupa tidak hanya hadir di sampul, tetapi juga dalam tubuh puisi. Kebersamaan puisi dan rupa di jagat puisi Indonesia tentu tidak berlangsung baru-baru ini. Tetapi kita melihat buku-buku puisi paling mutakhir seperti milik M. Aan Mansyur, Melihat Api Bekerja (2015), Avianti Armand, Buku tentang Ruang (2016), dan Joko Pinurbo, Buku Latihan Tidur (2017) yang semakin bersengaja menyajikan rupa dalam tubuh puisi. Selain larik-larik puisi itu sendiri, pilihan jenis huruf sejak judul dan puisi-puisi di dalam, penyajian ruang-ruang kosong, pilihan gaya rupa untuk puisi juga amat menentukan pribadi sang buku puisi.

Di Buku tentang Ruang, tim tata letak dari Feat Studio menata puisi Avianti dengan penuh kesadaran ruang (puisi). Judul puisi berada di halaman sebelah kiri, selalu sendirian. Larik-larik puisi ada di kanan halaman. Di sela-sela puisi, dalam lembar sendiri, sering di bawah judul, ilustrasi yang dibuat Setiadi Sopandi dengan goresan pensil menyapa mata. Dalam lansekap visual yang utuh, pemilihan jenis huruf pada judul, larik-larik puisi, peletakan ilustrasi (dan gaya ilustrasi itu) berhasil memasuki ruang visual pembaca. Gerbang ke dalam batin puisi telah terbuka. Dalam sebuah buku puisi tentang ruang, puisi-puisi itu (dalam sifatnya sebagai benda) juga ditempatkan pada ruang-ruang tertentu dan memberi ruang kosong pada buku puisi di tempat-tempat tertentu (yang disengaja). Itu bukan tidak bermakna apa-apa.

Alam kesunyian puisi tampil dalam buku-buku puisi lewat ruang kosong yang dibiarkan tetap sunyi tak berupa meski puisi berakhir tak sampai memenuhi sepertiga halaman. Sering ruang kosong itu sengaja diciptakan, seperti mengajak pembaca sejenak menyelami batin satu puisi. Ruang kosong itu sesungguhnya tak kosong. Kekosongan ruang di halaman puisi adalah ejawantah ruang makna yang bebas diisi oleh pembaca. Pembaca merdeka pula hanya berdiam diri, sekadar memberi jeda ke puisi di halaman seterusnya. Tata letak buku puisi mengajak pembaca memasuki ruang sunyi puisi.

Di buku puisi Avianti Armand, rupa bersanding mesra bersama puisi. Rupa ikut memberi penguatan pada pribadi puisi-puisi Avianti. Buku puisi Joko Pinurbo, Buku Latihan Tidur terhias ilustrasi apik Fandy Dwimarjaya. Gambar sampul (sayang sekali) hanya diambil dari laman penyedia gambar Shutterstock, sebuah penutup mata untuk tidur berlatar lingkaran putih. Di antara belantara jenis huruf, pemilihan Calibri untuk judul jelas sungguh kesalahan fatal untuk buku ini. Untuk sekadar “cantiklah sebelum lipstik tiba,” seperti kata Joko Pinurbo di buku itu, wajah sampul jelas gagal memberi pribadi jenaka sekaligus manis pada puisi-puisinya.

Di dalam, puisi-puisi juga tak mengalami penataan radikal yang puitis. Fitri Yuniar, sang pengatak, tidak memberi pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk menyajikan puisi secara visual pada pembaca. Tetapi ini buku puisi. Pada imajinasi pertama, pembaca yang menginginkan buku tentu berpikir membeli puisi-puisi saat membayar ke kasir. Pembaca tidak berpikir membeli rupa. Joko Pinurbo, tanpa atau dengan rupa, tetap memiliki puisi-puisi berkepribadian khas.

Garapan mewah tentu buku puisi M. Aan Mansyur, Melihat Api Bekerja. Sebelum pembaca menemui kata pengantar yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, ia sudah disuguhi tiga ilustrasi garapan Muhammad Taufiq atau Emte. Di dalam, mata tidak bisa berbohong untuk pertama-tama bergairah pada ilustrasi-ilustrasi apik Emte ketimbang pesona puisi. Tiap membalik puisi, kita tak menemukan ruang istirahat yang kosong. Lembar demi lembar, ilustrasi Emte ikut menyapa, menemani puisi. Melihat Api Bekerja berisi 56 puisi M. Aan Mansyur dan 73 ilustrasi Emte. Dalam jumlah, rupa sudah mengalahkan puisi. Dalam kepuitisan kata, mestinya Aan Mansyur tetap menjadi pemenang. Tetapi di mata visual manusia mutakhir, rupa jelas mengalahkan puisi. Pembaca pun boleh meragukan diri saat membeli buku puisi Melihat Api Bekerja. Ia membeli rupa, ataukah puisi-puisi.

Ilustrasi yang juga sudah ada sejak manuskrip-manuskrip puisi atau sastra lain dibuat pada masa lalu hanya bersifat dekoratif. Secara teknis, ia hanya menjadi hiasan, pendukung puisi yang meski memiliki simbol tertentu, tidak mengganggu puisi. Tetapi, ruang makna yang dihadirkan oleh buku-buku puisi mutakhir berhias rupa lebih tak hingga dibanding buku-buku puisi lawas tanpa rupa. Pembaca tidak hanya menghadapi puisi yang mengandung banyak makna. Pembaca juga menghadapi rupa yang tak menutup diri dari tafsir di luar puisi. Pada mulanya, ilustrasi dalam puisi memang diniatkan sebagai pengindah. Tetapi ilustrasi itu bukan gambar dekoratif seperti pada masa lalu. Ilustrator menafsir puisi dalam rupa. Dan dalam rupa yang terpisah dari huruf, ia adalah entitas individual yang memiliki kedirian sendiri. Di hadapan mata-visual, rupa tetap meresapkan “rasa” yang tidak terbantu bahkan tersokong oleh huruf-huruf mana pun. Rupa bisa jadi juga puisi dalam caranya sendiri. Di hadapan pembaca, puisi dan rupa bisa bersanding serasi, bersanding tidak serasi, menguatkan, malah mungkin saling meruntuhkan.[]


Esai ini pernah dimuat di Basis, berjudul Berkisar di Puisi

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer