Mengheningkan Mata di Ruang Rupa

Barangkali benarlah kata entah siapa: semua orang bermata, tapi tak semua sanggup melihat. Melihat butuh pengetahuan. Pelibatan pengetahuan dalam peristiwa melihat turut memberi bentuk pada rupa-rupa pengalaman estetika. Lebih dari itu, semestinya pengetahuan mengayakan hati. Dan seperti kata Romo Mangun, kita selalu melihat dengan hati. Itulah yang terjadi saat Lillian Rowe, perempuan Kristen di film The Ottoman Lieutenant (2017) menatap kubah tinggi dengan ornamen kaligrafi dalam sebuah masjid di Istanbul. Berhadapan dengan seni rupa (Islam), ia berujar pada Ismail Veli, “Seperti berada di dalam pikiran Tuhan.” Mata itu tak cuma mata-pengetahuan, tapi juga mata-rasa.
Mata yang merasa, sanggup melihat dan membaca kata-kata dalam lukisan. Mata-rasa mengajak penikmat rupa merasai nuansa dan merasuk ke kisah jiwa. Ia pun menemu, perupa itu penulis juga. Kata-katanya adalah garis, bidang, dan warna. Apakah penikmat rupa ingin terus berada di cerita dan tak cepat beralih, itu sudah kuasa si perupa.
Beberapa waktu lalu, saya menunaikan niat hadir di pameran tunggal Anis Kurniasih berjudul Fabula di Balai Soedjatmoko, Solo. Anis, yang rupanya sebaya dengan saya, menyelesaikan kuliah di Desain Komunikasi Visual UNS. Ia salah satu penerima penghargaan di 2017 UOB Painting of The Year. Fabula, yang berarti “drama” adalah pameran tunggal pertama Anis usai sejumlah pameran bersama di banyak kota.
Selama seminggu Balai Soedjatmoko memajang 20 lukisan dan satu karya tiga dimensi menjulang di ruang utama. Anis melukis dengan bolpoin di atas kanvas, kertas, dan kayu. 20 lukisan menokohkan hewan-hewan berbentuk tak lazim, mengingatkan saya pada fauna di Fantastic Beasts and Where to Find Them (2017). Detail tubuh digarap sungguh-sungguh dengan goresan cermat meski agak belepotan di banyak tempat sebab tinta yang mbleber saat lukisan didekati.
Mata memulai perjalanan dari dinding barat di samping pintu masuk selatan. Seekor ular berwarna ungu bersayap kupu-kupu, burung bangau tinggal kerangka yang seolah terlahir dari tubuh ikan, capung bersirip di antara bunga-bunga, dan sesosok kepala ayam terhias bunga-bunga tampil di Camouflage Series (2018).
Di ruang pamer utama, mata bertemu The Unseen Series, enam lukisan di atas kanvas bundar, menampilkan perbesaran bagian-bagian hewan: mata serangga, reptil, burung. Ketaktampakan (unseen) hewan-hewan itu hadir dalam perbesaran yang ia lakukan. Lalu? Saya tak menemukan lanjutan lukisan ini kecuali keinginan segera beranjak ke kanvas-kanvas lain.
Ada pula seri The Lost Image (2018), tiga lukisan dengan bolpoin berwarna oker. Figur kelinci dan ular dibentuk dari lukisan tanaman dan bebungaan di sekiarnya. Lukisan-lukisan ini terasa harfiah.
Playground (2017) memenuhi dinding ruang timur. Ini jelas lukisan paling fantastis di ruang pamer, terutama dari ukuran. Warna hitam kelinci bersayap kupu-kupu, kelinci bersayap elang, burung bangau bersisik, semacam iguana berekor ikan, penyu bertubuh bebek, figur kepala banteng dengan telinga, tanduk, mata, hidung dan mulut dari beragam hewan berpadu dengan bunga berwarna merah memenuhi kertas berukuran 435 x 150 cm. Sebuah jam saku tergantung seutas tali merah yang menjerat bangau-ular. Saya merasa berada dalam sebuah drama kolosal perayaan hidup sekaligus sambutan kematian yang tak bisa dielakkan. Tapi saya gagal “ngobrol” lama dengan lukisan ini. Lampu dimatikan demi siaran langsung yang memancar di tembok utara, menampilkan Anis yang sedang melukis bertumpu meja besar tepat di ujung selatan ruangan, sungguh mengganggu. Bagi saya, tata ruang ini fatal.


Playground (2017) - Foto oleh Retia Kartika Dewi

The Unseen Series (2018) - Foto oleh Retia Kartika Dewi
Mata juga bertemu dengan Vulpa (2017), Taste of Ego (2017), Fools Out Proud (2018), Hidden Heaven (2018), Out of Border (2018), dan Habitus (2018). Enam lukisan inilah yang agak memberi jejak pada saya dibanding yang lain, terutama Fools Out Proud—saya rada kesulitan merasai judul ini dalam bahasa Indonesia. Di bawah ornamen tetumbuhan di pojok kiri atas, seekor hewan mutan tertunduk seperti sayu. Di bawahnya, serakan aneka makanan siap saji: Coca Cola, hamburger, minuman berlogo Starbuck, kue-kue, dan french fries.


Habitus (2018) - Foto oleh Retia Kartika Dewi


Kalaupun Anis, yang mengaku pada Emmanuel Putro Prakoso di katalog, bermula dari gagasan “bahwa telah terjadi kesalahan besar yang dilakukan umat manusia di dunia ini sehingga merusak alam beserta isinya [... dan] ada rekayasa manusia terhadap alam yang membuat banyak hewan bermutasi secara bentuk dan aktivitas,” Fools Out Proud inilah yang rasa saya paling berhasil bersuara. Segaris dengan judul pameran, Anis berhasil menyajikan drama yang tak kehilangan jejak keangkuhan manusia di dalamnya.
Saya tak merasakan itu pada lukisan-lukisan lain. Mereka seolah hanya bermutasi begitu saja atas kehendak sendiri, tak begitu berurusan dengan manusia apalagi bertaut dengan alam. Tetumbuhan dan bebungaan di banyak lukisan lebih terkesan ornamental saja. Hewan-hewan hampa dan tak mengatakan apa-apa. Fools Out Proud, meski dengan komposisi yang tak terlalu saksama—seperti pada banyak lukisan lain—berhasil memberi ajakan berpikir perkara peristiwa bersantap yang semakin merumit oleh dalih budaya, gengsi, dan lakon artsy. Dan barangkali hewan mutan itulah kita, orang-orang yang mengira dapat menemukan diri di warung-warung makan gebyar-gebyar.

Fools Out Proud (2018) - Foto oleh Retia Kartika Dewi

Taste of Ego, mutan berbentuk ular dengan rupa-rupa kulit dan kepala gabungan kambing, anjing, kuda, berambut manusia. Ia melingkarkan tubuh berpeluk sebentuk kamera berlogo media sosial: Twitter, Pinterest, Instagram. Sosok itu menjulurkan lidah, tampak kesakitan oleh tali kekang yang menjerat leher. Perupa mengajukan gugatan pada laku sosial manusia mutakhir. Keinginan untuk terus mengabarkan diri di media sosial menjerat warganet ke kehidupan sesak yang semu dan mematikan (jiwa). Media sosial itulah yang secara metaforis terlukis pada sosok mutan, mengubah manusia jauh dari rupa aslinya.
Maksud lukisan itu terbaca jelas. Tapi mata saya tak bisa bohong. Ia tak merasakan apa-apa. Gagasan awal rekayasa manusia pada alam sebagai penyebab mutasi hewan (secara biologis) hilang. Saya meragu, mungkinkah saya gagal melihat dan merasa karena terlalu sedikit yang bisa saya bawa pulang dari Fabula.

Mata yang Hening
Saya pun menyurut dari ruang pamer, membaca katalog sekali lagi. Emmanuel mengaku mendapat penjelasan gagasan estetika lukisan Anis lewat percakapan di pesan Instagram. Emmanuel tak merasa perlu berjumpa langsung dan menghabiskan lima jam mengobrol tentang lukisan-lukisan itu. Di tulisan Menemukan yang Tidak Diinginkan, Emmanuel menyebut Anis sebagai “generasi jaman now.”
Anis itu perupa milenial. Barangkali saya bakal bisa lebih memahami dia lewat sebagaimana adanya dia dan saya: bocah gemar mengabarkan diri di Instagram. Di akun aniskurniasih_, sejumlah penciptaan lukisan terdokumentasi. Salah satu lukisan The Unseen Series yang tengah dikerjakan di sebuah padang bunga matahari, terunggah 12 Januari silam. Foto kedua menampilkan potret Anis menyembul di antara bunga-bunga, menatap kamera, memberi senyum dengan bibir merah bergincu. Tak ada keterangan foto tertulis. Tapi, di beberapa foto ia menulis, “Surti pura-pura menggambar.”
Berpotret di tengah jalan menyelesaikan lukisan bukan perkara berlebihan hari ini.  Roby Dwi Antono, Gatot Indrajati, Lala Bohang, Bambang Nurdiansyah, dan banyak perupa lain membagi dan memamerkan karya di Instagram tiap waktu. Media sosial (Instagram) tak lain adalah ruang pamer bagi para perupa milenial. Karya rupa bercampur dengan potret pernikahan, pelesiran, makanan, dan seterusnya. Barangkali beginilah akhirnya seni rupa sampai di titik ia benar-benar menjadi bagian mahajana, menghapus cap priyayi di dirinya.
Tapi mungkinkah mata bertemu rasa menghadapi “salinan” goresan, warna, dan bidang di layar sekian inci. Di Instagram, perupa hanya “pura-pura menggambar” dan sungguh-sungguh berpotret untuk mata pengikut. Bercumbu khusyuk bersama karya sering kalah oleh godaan berkabar di media sosial. Lukisan belum sempat menemu diri saat berhadapan dengan mata pelihat, dan perupa milenial tak sempat lagi mengingat kalimat bersahaja Nashar, perupa yang berpulang 1994 silam, “Kalau hidup saya lebih dalam, lukisan saya tentu lebih dalam” (Bambang Bujono, 2017). Laku perupa turut memberi ruh pada lukisan.
Perupa milenial mesti cukup legawa saat lukisan itu “hanya” memeroleh ratusan atau ribuan waru, atau mentok di komentar emoji jempol dan satu kata “Baguuus!”, “Keren!”, dan seterusnya; bukan mata yang sempat memeroleh jeda dari serbuan badai visual mutakhir dan menemukan “sesuatu” di sana.[]

Komentar

Postingan Populer