Merumah Berkali Lagi
Hal paling tidak kusiapkan saat kuketuk lagi pintu rumah ini, selalu: disambut (hangat, mungkin rada rindu) oleh diri sendiri. Bagaimanapun, sebuah blog pribadi mula-mula ditulis tidak hendak menyenang-nyenangkan orang lain. Bertahun yang lalu, saat halo pertama "terucap" di sini, dalam bahasa yang hari ini membuatku sungguh malu, menulis adalah sebentuk buncah semringah. Tanpa pamrih, dalam kepercayaan bahwa aku memiliki pembaca yang senantiasa menanti. (Ha ha!)
Hari ini, menulis mesti dibarengi pusparagam prasangka dan ribuan derita bahasa. Jari-jariku rikuh menggamblangkan diri serupa dahulu. Ini bukan lagi rumah tak tembus pandang. "Rumah" ini lebih menjelma ruang dengan dinding-dinding transparan. Siapa saja bisa melirik, mengintip, melongok, mampir sebentar.
Dalam muslihat bahasa dan arus deras abad digital XXI, kuulang "halo" sekali lagi.
Hari ini, menulis mesti dibarengi pusparagam prasangka dan ribuan derita bahasa. Jari-jariku rikuh menggamblangkan diri serupa dahulu. Ini bukan lagi rumah tak tembus pandang. "Rumah" ini lebih menjelma ruang dengan dinding-dinding transparan. Siapa saja bisa melirik, mengintip, melongok, mampir sebentar.
Dalam muslihat bahasa dan arus deras abad digital XXI, kuulang "halo" sekali lagi.

Hai, nona
BalasHapus