Mewaktu
Pernah menangkah kita di hadapan Sang Kala?
Seorang yang sempat meriwayatkan-nya--seolah ia menyaksikan kelahiran dan masih akan ada saat Sang Kala menjemput maut--pun tak memiliki secuil jua kuasa saat waktu diambil dari dirinya. Jantung itu berhenti berdegup. Waktunya telah habis. Stephen Hawking takhluk pada waktu. Sementara waktu, Sang Kala, tersenyum kecil saja.
Kita merasakan kehadiran Waktu pada matahari, bulan, lalu jam di telepon genggam. Waktu mewujud pada pakaian-pakaian yang makin sesak atau kumal, pada keriput, uban, gelambir di penjuru tubuh, dinding rumah yang retak, televisi tabung yang makin tak berguna, pesan-pesan Whatsapp yang tak sempat terbaca.
Waktu, ia bisu saja. Sementara kita-kita terus merasa dikejar tiada habisnya, seperti menghayati benar kata Tuhan yang Mahamenunggu: selesai satu pekerjaan, lekas kerjakan yang lain! Ada banyak "kapan" yang mesti dijawab dengan pertaruhan mewaktu--yang sering luput. Kita jadi tak pernah hidup detik ini saja. Kita selalu berada di "suatu saat nanti aku akan", "kalau aku sudah". Kita memilih mewaktu di masa depan yang bukan milik kita sedetikpun.
Pada suatu masa yang dahulu, kita pernah "bebas dari ketergesa-gesaan, tidak peduli dengan ketepatan, dan masa bodoh dengan produktivitas" (Suatu kutipan dari Jacques Le Goff, di buku yang belum juga khatam kubaca sejak waktu memperbudakku: The Shallows oleh Nicholas Carr).
Seorang yang sempat meriwayatkan-nya--seolah ia menyaksikan kelahiran dan masih akan ada saat Sang Kala menjemput maut--pun tak memiliki secuil jua kuasa saat waktu diambil dari dirinya. Jantung itu berhenti berdegup. Waktunya telah habis. Stephen Hawking takhluk pada waktu. Sementara waktu, Sang Kala, tersenyum kecil saja.
Kita merasakan kehadiran Waktu pada matahari, bulan, lalu jam di telepon genggam. Waktu mewujud pada pakaian-pakaian yang makin sesak atau kumal, pada keriput, uban, gelambir di penjuru tubuh, dinding rumah yang retak, televisi tabung yang makin tak berguna, pesan-pesan Whatsapp yang tak sempat terbaca.
Waktu, ia bisu saja. Sementara kita-kita terus merasa dikejar tiada habisnya, seperti menghayati benar kata Tuhan yang Mahamenunggu: selesai satu pekerjaan, lekas kerjakan yang lain! Ada banyak "kapan" yang mesti dijawab dengan pertaruhan mewaktu--yang sering luput. Kita jadi tak pernah hidup detik ini saja. Kita selalu berada di "suatu saat nanti aku akan", "kalau aku sudah". Kita memilih mewaktu di masa depan yang bukan milik kita sedetikpun.
Pada suatu masa yang dahulu, kita pernah "bebas dari ketergesa-gesaan, tidak peduli dengan ketepatan, dan masa bodoh dengan produktivitas" (Suatu kutipan dari Jacques Le Goff, di buku yang belum juga khatam kubaca sejak waktu memperbudakku: The Shallows oleh Nicholas Carr).

Komentar
Posting Komentar