Berteman Kata dan Raga


Esai adalah perjumpaan dan persahabatan, kata Ignas Kleden. Perjumpaan dan persahabatan yang bukan semata perkara harfiah mempertemukan mata dengan mata, tubuh dengan tubuh. Di gelagat tulisan, esai hampir selalu tampil sebagai sosok ramah nan luwes, mau bersapa dengan siapa saja, mengobrol perkara apa saja.
Menulis esai, lain lagi. Orang-orang akan memiliki banyak dalih untuk sampai pada pembayangan seorang penulis yang lebih bersifat meredup, bersendiri di nuansa sunyi demi kata-kata yang sanggup memberi hidup. Buku-buku saja terasa cukup buat membekali diri merengkuh pikiran dunia.
Tapi betapa sempit ceruk pikiran yang dihuni hanya oleh satu orang dengan kefasihan satu bahasa. Betapa gelap jalan kata yang mesti ditempuh seorang diri. Betapa menyedihkan seorang mengaku penulis yang menginginkan dirinya hanya bersentuhan dengan buku, buku, buku, tanpa mengalami diri sebagai manusia yang bergerak dengan tubuh, mengalami pertemuan-pertemuan, berbagi obrolan panjang dengan siapa saja, meski sebuah buku bisa jadi teman yang sungguh lebih baik dari seratus manusia.
Bukankah segala yang menambah kekayaan pikir dan rasa itu pertama-tema mesti melalui indra yang ragawi. Kita membaca dengan kedua bola mata sebelum kata-kata melaju ke pikiran dan memberi satu arti tertentu dalam diri. Kita sanggup merasa dan berpikir, hanya karena kita masih tinggal di tubuh yang ragawi.


Komentar

Postingan Populer