Bertempat, Membenda


Manusia tidak dapat hanya mempercayai diri sendiri untuk menitip dan mencipta cerita. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengartikan satu benda lebih dari benda lain. Di novel Laut Bercerita (Leila S. Chudori, 2017), tempat dan benda menjadi permulaan rupa-rupa peristiwa menjalar ke satu periode terpenting sejarah berbangsa dan bernegara Indonesia. Bermula Solo, peristiwa demi peristiwa menempat di Yogya, mampir di Cilacap, Flores, Lampung, Pekanbaru, Padang, lalu berakhir di Jakarta dan tak di mana-mana. Kota-kota lebih banyak diingat dan menempati urutan penting kurang penting bertaut sejarah kolosal yang pernah melibatkannya.
Keluarga Wibisana menempati sebuah rumah di sudut kota Solo, konon, Kota Bayi-Bayi Sejarah. Di Laweyan, Biru Laut dan Asmara Jati diasuh oleh buku-buku, bahasa Jawa, Indonesia, dan bahasa Inggris. Setiap Minggu, mereka turut Ibu ke Pasar Klewer untuk belanja bahan makanan dan katering. Pembaca bertemu Solo sebagai kota pemanja lidah. Meski pindah ke Yogya dan Jakarta, ingatan kesegaran es dhawet di sudut Klewer dan tengkleng Bu Edi melekat di benak Laut.
Solo juga kota sulit beringas. Di Jakarta, Asmara Jati mengingat dua kota bertolak kepribadian: Jakarta dan Solo. “Entah bagaimana, sekelompok anak-anak kaya raya Jakarta ada yang menyangka jalanan di kota ini malam hari adalah miliknya dan bisa digunakan untuk ngebut dengan mobil Ferari terbaru. Kadang aku rindu Solo yang tak mungkin menyandang kedunguan seperti ini” (Hal. 270).
Dua bersudara Biru Laut dan Asmara Jati menyelesaikan masa kecil dan remaja di Solo. Sementara Asmara menempuh karir akademis nan pragmatis, Laut melibatkan diri dengan peristiwa sastra dan teater yang saat itu meriuh di Solo. Di Solo, Laut terpatri pada sosok Bu Ami, guru Bahasa Indonesia yang gemar membacakan cuplikan buku-buku sastra. Tautan dengan anggota keluarga bercap PKI membuat dia menghilang tiba-tiba. Laut tak pernah tahu kenapa, sampai beberapa tahun lamanya.
Solo memantik api kemarahan Laut pada negara, tetapi tidak membuat kota itu menjadi pilihan untuk menempa pikiran. Ia pindah ke Yogya. “Aku ingin bertemu dan bertukar pikiran dengan anak muda Indonesia yang memilih berkumpul di UGM dan mengutarakan ide-ide besar” (Hal. 23). Pilihan “berkumpul di UGM” membuktikan Yogyakarta kota lebih serius mengurusi pemikiran dan aktivisme mahasiswa. Solo dengan Universitas Sebelas Maret, yang didirikan oleh Soeharto sendiri pada 1976, menjadi lakon figuran laku pergerakan-intelektual para aktivis Indonesia. Solo tak mampu memproduksi “ide-ide besar” bertaut perlawanan pada rezim khianat.
Yogya juga memiliki pukau intelektualisme serupa bagi Arifin Bramantyo, aktivis Wirasena. Berasal dari Cilacap, Bram yang telah memiliki ratusan buku sastra “revolusi” saat SMP meminta izin meneruskan SMA di Yogya. “Ayahnya tahu, Yogyakarta seperti magnet bagi bocah lanangnya yang terlihat semakin bengal” (Hal. 29). Laku bengal yang bermula buku mengarah pada kebengalan pikiran, enggan tunduk pada sejarah yang ditulis ulang oleh negara.
Yogya, bom waktu. Hari demi hari, Laut dan teman-temannya di Winatra dan Wirasena bergelimang kata-kata. Buku demi buku terlahap, perdebatan intelektual berambisi “menyelamatkan Indonesia” terjadi, rencana-rencana “pergerakan” terutarakan. Di warung Bu Retno yang enak, murah, dan (berporsi) banyak, pesona kuliner lesap oleh obrolan-obrolan serius bertaut sosial, ekonomi, dan politik Indonesia. Dari Yogya, muncrat rupa-rupa aktivisme mahasiswa yang bikin gerah pemerintah. Yogya bukan Kota Gudeg, tetapi Kota Politik.
Laku politik di Yogya membikin Laut dan kawan-kawan bagai telur di ujung tanduk. Mereka masuk daftar buron dan mesti melarikan diri sejenak keluar dari Yogya. Para pelarian memindahkan tubuh sejenak ke Lampung, Pekanbaru, dan Padang. Di luar Pulau Jawa, aktivitas politik tak terlalu panas. Kota-kota tak terlalu penting di lansekap perpolitikan Orde baru. Hidup berpindah dari kota ke kota, para buron kembali ke Jakarta.
“Jakarta memang sedang membutuhkan kami,” Laut berucap saat mampir ke rumahnya di Ciputat bersama Alex Perazon, pemuda Flores. Satu kalimat pendek bernada guyon, tetapi menampilkan posisi Jakarta sebagai kota paling penting di Indonesia. Sebagai pusat kekuasaan, Jakarta setara dengan negara Indonesia. Penggulingan rezim berkedudukan di Jakarta sama dengan penyelamatan seluruh negara Indonesia dari gerogotan diktator-koruptor.
Laut menghidupi diri dengan menulis cerita dan menerjemahkan buku. Dia dan kawan-kawannya terus melakukan upaya-upaya menjatuhkan rezim dari bawah tanah. Tetapi, meski itu tahun-tahun kritis bagi rezim Orde Bau, tetap saja negara berhasil menangkap Laut dan teman-temannya, membawa mereka ke “suatu tempat”.
Dalam rentang tahun 1991-2007, Leila S. Chudori mengajak pembaca Laut Bercerita ke kota-kota bersejarah untuk berselipan dan berakhir “di sebuah tempat”. Peristiwa paling pokok dalam Laut Bercerita, penyiksaan para aktivis pada 1998, terjadi hanya di “sebuah tempat” tanpa pembaca benar-benar tahu itu di mana. Tentu saja, kecurigaan mengarah pada Jakarta. Tetapi, “suatu tempat” yang senantiasa dijadikan judul bab penyiksaan oleh Leila di novelnya tak cuma menarasikan keinginan negara agar para tawanannya tak tahu mereka di mana. “Suatu tempat” juga menandakan tercerabutnya mereka dari arti menjadi manusia yang mesti meruang, menempat. “Suatu tempat” itu tak bisa mereka ingat dari cita rasa kuliner atau aura intelektualismenya. Mereka hanya mengenali “suatu tempat” itu sebagai “keji”, “laknat”, “Khianat”, dan “kelam.”
Pada bagian-bagian penuh darah, pisuhan, dan semacam usaha pengungkapan kebenaran fakta sejarah oleh Leila ini, pembaca tidak cuma menemukan peristiwa penghilangan para aktivis dari tempat-tempat mereka semula ke “suatu tempat”. Ia sekaligus menyodorkan apa yang terkandung pada “suatu tempat” itu. Jasad Laut dan teman-temannya gagal ditemukan sampai akhir. Mereka tidak di mana-mana, tetapi mereka juga berada di mana-mana.
Di novel, hilang dari tempat semula berada berarti kematian. Para aktivis telah tiada secara ragawi, tetapi mereka dihidupkan terus-menerus oleh benda-benda. Sejak Laut tak ada kabar, Bapak dan Ibu Wibisana menghidupkan Laut di dapur lewat “panci burik biru yang besar”, pisau biru kesayangan Mas Laut, dan yang akan membuat pembaca ikut putus asa: menyaksikan Bapak selalu menata empat piring di atas meja makan. Satu piring dan kursi yang dilarang diduduki oleh siapa pun kecuali Biru Laut. Di kamar, semua benda ditata persis sama sebagaimana pemiliknya tak pernah pergi dari sana. Dalam surat imajinatif, Asmara Jati bercerita dalam duka.
“Empat tahun piring makanmu tak boleh kami singkirkan, empat tahun kamarmu dan buku-bukumu berdiri tegak persis pada tematnya tanpa sebutir debu pun yang berani melekat karena Bapak rajin merawatnya. Sesekali jika dia memangku ranselmu yang sudah butut itu dan mengelus-elusnya, seolah barang yang setia melekat di punggungmu itu adalah pengganti dirimu” (Hal. 347-348).
Tiap benda itu, piring, buku-buku, ransel, tempat tidur, sprei, rak buku, lantai, lampu, baju-baju, tidak pernah menjadi seonggok benda belaka. Mereka adalah Biru Laut. Tempat memberi kesaksian pada peristiwa-peristiwa berujung kematian. Benda-benda melawan kematian, memberikan kehidupan pada pemiliknya.
Laut Bercerita menyuguhi pembaca 377 halaman episode penting sejarah Indonesia yang tak mungkin ternarasaikan segamblang ini pada rezim Soeharto atau sebentar sesudahnya. Leila menulis novel bersumber majalah Tempo edisi khusus Soeharto, 2008 dan sejumlah wawancara dengan berbagai narasumber pada 2013. Novel terkesan serius berambisi membeberkan kebenaran sejarah.
Pemilihan tempat sebagai judul tiap bab membuat Leila harus bercerita peristiwa di tempat itu sebaik-baiknya. Peristiwa demi peristiwa tergarap. Pembaca ikut merasakan jeri saat para aktivis merasakan berbagai penyiksaan. Ditendang, dipukuli, disetrum, ditidurkan di atas balok es... Pukau dan ambisi pada peristiwa penjelasan sejarah mengalahkan penggarapan tokoh-tokoh.
Pembaca gagal membayangkan sosok Biru Laut, Asmara Jati, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dan teman-temannya dari pakaian yang dikenakan, sepatu, atau benda-benda lain yang mencirikan sosok pemuda Indonesia tahun 90-an. Sebagai mahasiswa militan dengan bahasa aktivis kental, sulit dibayangkan mereka tidak bangga memakai jas almamater saat demonstrasi. Kesadaran bahasa sepenuhnya yang dialami Biru Laut dan Asmara Jati hampir-hampir terasa sebagai kepekaan Leila pada tahun 2017 ketimbang sosok Laut atau Mara pada 1998. Pembaca Leila jadi mengingat sosok kuat Nadira Suwandi di novel 9 dari Nadira (2015) dan Nadira (2017). Di sana, Leila berhasil membentuk tokoh-tokoh yang intens sekaligus kultur sosial, ekonomi, dan politik yang membentuk jagat cerita.
Jika pembeberan fakta sejarah yang diinginkan, Laut Bercerita bukan sebuah kegagalan. 

[Semacam ulasan ini dimuat di buku Khatam (Bilik Literasi, 2017), buku yang berisi pembacaan teman-teman atas novel Laut Bercerita.]

Komentar

Postingan Populer