Doa Kecil untuk Bocah Berpohon
Kali ini, kita merayakan Hari Buku Sedunia
dengan membuka halaman persembahan buku Centhini
Kekasih yang Tersembunyi garapan Elizabeth D. Inandiak (2015). Kita
membaca: “Buku ini dipersembahkan kepada para kawi dan pujangga Jawa dan kepada
pohon-pohon yang ditebang demi tembang-tembang Centhini.” Pada tanggal-tanggal
yang sesak peringatan, kita sejenak terhening mengingat kematian para pohon
demi jelma huruf dan kata-kata di sebuah buku.
Genosida pada masyarakat pohon terjadi
berulang-ulang, masa demi masa sejak ratusan tahun lalu, tapi tak pernah jua
ada sebentuk penghormatan, pemakaman masal penuh takzim, pembangunan monumen,
tugu peringatan, atau museum demi pohon-pohon yang gugur di medan laju
peradaban manusia. Elizabeth barangkali satu yang sempat mengingat kematian
pohon-pohon tak bernama pada penciptaan 4000 halaman Suluk Adiluhung Jawa
pertengahan abad ke-19 silam. Kita belum pernah begitu berduka atas kematian
pohon. Semata karena ia makhluk hidup bernama pohon yang tak tertitipi pusparagam
peristiwa.
Kematian pohon terasa sebagai sejenis
peristiwa yang muskil terpatri dalam benak. Barangkali, itu peristiwa di luar
kesadaran seperti tangan yang enteng membunuh semut yang tak sengaja lewat di
kulit. Beberapa pohon memang beroleh perlakuan istimewa bertaut dengan
peristiwa sejarah (dengan manusia), seperti ambruknya pohon kanthil teman karib
Kartini semasa kecil di Jepara, Januari silam. Adakah yang sempat berduka untuk
kematian pohon-pohon penaung jalan di kota-kota, pohon-pohon tanpa nama dan
titipan sejarah di raga?
Atas pembangunan jalan layang Manahan, Solo,
sejak awal Maret silam, orang-orang mengajukan protes sejak perkara kemacetan,
pelibatan warga di tata kota dan seterusnya, tapi tak mendengar siaran berita
kematian pohon-pohon penaung. Pohon-pohon di pinggir dan tengah jalan sisi
timur bundaran dimutilasi, dan orang-orang melintasi jalanan sebagaimana biasa.
Kematian pohon-pohon itu memang diperlukan demi angan leganya lalu lintas di
kota Solo setahun lagi. Pohon-pohon pun berjatuhan tanpa iring tangisan...
Duka
Bocah demi Pepohonan
Sebagian besar kita memang jarang diajar
berduka atas kematian pohon. Kita lebih diajari buat kagum atau takjub sejenak.
Sejak sekolah dasar, bocah telah berterima pohon sebagai rangkaian panjang dan
kaya “Sumber Daya Alam” belaka. Pohon-pohon dikenal bocah-bocah “cuma” sebagai makhluk penghasil oksigen,
satu-satunya yang tak merepotkan makhluk lain buat makan. Akarnya penadah air
pengusir banjir. Tubuhnya menjelma rumah-rumah, perabot, kertas, dan pusparagam
benda-benda. Pohon-pohon di kota adalah pahlawan tanpa tanda jasa mengurai
polusi udara. Dan matinya pohon adalah niscaya demi kelangsungan penghidupan
manusia.
Di sekolah, bocah-bocah kota pun belajar
terkungkung tembok dan sejuk pendingin ruangan. Mereka tak sempat lagi merasai
sepoi angin yang meniup dedaunan dan menyapa bocah dari jendela kelas terbuka.
Pohon-pohon semakin dihilangkan dari halaman sekolah-sekolah, tapi tak pula
mereka merasai sengatan panasnya. Kelas-kelas memenjarakan indra bocah untuk
mendekat ke pohon. Buku-buku mata pelajaran dari negara tak memberi madah pada
sang pohon lewat kutipan puisi atau kisah-kisah magis membersamai hidup sebuah pohon.
Suatu saat, bocah-bocah kota mungkin
sempat membaca narasi penghormatan pada pohon sebelum pohon ditebang di
beberapa kebudayaan. Narasi itu tetap terasa
berasal dari saujana, antah berantah. Bocah (kota) terbiasa menganggap pohon
sebagai makhluk yang “mati satu tumbuh seribu.” Tanpa mereka tahu dan mau, di
sebuah petak tanah tak bertuan pun, sebuah tunas baru akan girang memulai
hidup. Sungguh, duka demi kematian sebuah pohon itu sama sekali tak perlu
terbetik sejenak pun.
Buku-buku di sekolah lebih mengakrabkan
bocah pada kata jahat “reboisasi”. “Reboisasi” mengajak bocah-bocah
menyepelekan hidup pepohonan. Mati mereka mudah terganti. Sekolah, lembaga,
atau mereka yang mengaku pencinta alam sering mengajak bocah menanam pohon di lahan
gersang. Penanaman pohon malah terjerumus ke peristiwa salaman, foto, dan tepuk
tangan. Pohon pun dinamai seperti nama (pejabat) penanam. Pohon-pohon sekadar
dipermainkan demi pusparagam dalih, dan ribuan bibit tersia di sebuah petak.
Pada peristiwa-peristiwa serupa, bocah mungkin menanam pohon, tapi tak menanam
apa-apa di diri mereka.
Di rumah, bocah tak juga sempat berkenalan
akrab dengan para pepohonan. Rumah-rumah di kota semakin tidak punya halaman
demi hidup sebatang pohon keluarga. Di jalanan, bocah-bocah sekilas saja
berpapasan dengan pohon di atas kendaraan melaju cepat mengantar ke sekolah dan
tempat-tempat penghiburan. Suatu saat, di sebuah taman kota, taman nasional,
atau perjalanan ke tempat-tempat yang masih rembuyung pohon, bocah kota
barangkali sempat terkesiap juga pada kebesaran dan keteduhannya. Tapi waktu
tak pernah cukup baik hati buat memberi bocah kota peristiwa menyayangi
pohon-pohon dan berduka atas kematiannya. Bocah lekas kembali sibuk memanen
peristiwa gersang tak berpohon di belantara beton kota. Di sekolah dan rumah di
kota, bocah semakin sulit berduka atas kematian pohon.
Jika hidup di kota tak lagi memberi
sedikit magis pada pepohonan, bocah mungkin ingin melarikan diri ke buku-buku
cerita dan film-film rembuyung pepohonan. Bocah-bocah mengalami peristiwa
menyedihkan atas kematian pohon-pohon di film Princess Mononoke (Hayao Miyazaki, 1997). Pepohonan tak pernah
sekadar batang berkayu, berdahan, beranting dan daun. Mereka adalah sosok-sosok
bersahaja yang memiliki ruh. Di film, pohon-pohon hangus dibakar dan ditebang
demi ambisi manusia. Ruh-ruh pohon dicemooh sebab tak henti mencoba menanam
lagi pepohonan. Kematian pohon-pohon hanya mampu membuat satu orang berduka,
Putri Mononoke. Dan tentu saja, manusia selalu makhluk lemah terkucil di hadapan
sang semesta. Mereka tak jua menemu kesadaran sebelum kehilangan.
Bocah-bocah bisa bergirang hati merayakan
tumbuh pohon-pohon di film My Neighbor
Totoro (Hayao Miyazaki, 1988). Dua bocah cilik Satsuki dan Mei berpindah ke
sebuah rumah tua di desa. Rumah itu bertetangga dengan sebuah pohon besar
menjulang. Saat menunggu kedatangan ayah di halte, mereka menemu perjumpaan
istimewa dengan Totoro, makhluk gembul berwarna abu-abu, berperut putih dengan
kuping kelinci. Totoro memberi hadiah segenggam benih berbungkus daun.
Benih-benih segera ditanam di halaman. Oh,
dua bocah tak sabar melihat daun mungil menyembul dari tanah. Pada sebuah malam
purnama, Satsuki dan Mei terbangun, menyaksikan Totoro dan dua makhluk imut
berbaris mengelilingi ladang mungil tempat benih-benih tertanam. Dua bocah lari
ke halaman, mengikut ritual, berbaris, melompati ladang mungil. Dan begitulah,
saat tangan dua bocah teracung ke angkasa, tunas-tunas bermunculan, batang
pohon membesar, meluncur ke angkasa. Sebuah pohon besar menaungi rumah kecil
mereka di malam gerah. Esoknya, dua bocah terbangun dan melihat tunas-tunas
pohon kecil bertumbuhan. “Itu mimpi, tapi bukan mimpi!” Dua bocah tertawa dan
melompat kegirangan. Tumbuhnya pohon-pohon adalah peristiwa magis nan ajaib.
Bocah menanam peristiwa berpohon di film.
Biografi berpohon mungkin berlanjut ke buku-buku dan lebih banyak film yang
membukakan kembali mata dan pikiran ekologis mereka. Bocah-bocah pun bersiap
mencipta kembali biografi berpohon dan tak ingin begitu mudah membunuh sepucuk
tunas kecil di depan rumah.
Saat menjadi bocah-bocah tua kelak, mereka
bisa agak bergirang hati sebab bisa menjawab dengan senyum, sebaris pertanyaan
Avianti Armand di Puisi-Puisi Tanpa Judul
di Buku Tentang Ruang (2016): Kemarin
kamu bilang: Jangan tinggalkan aku. Aku bisa mati. Tapi mungkinkah pernah kamu
serukan kalimat yang sama pada perdu di samping rumah, kolam hijau pekat yang
dasarnya tak pernah kita lihat, kumpulan ketilang, juga pagi yang malas?
Semoga selamat merayakan huruf-huruf berpohon. (Lampungpost, aku lupa kapan)

Komentar
Posting Komentar