Pustaka Main Mata
Yulia Loekito cilik melewati
hari-hari dengan melahap buku-buku Enid Blyton. Menapak remaja, ia bersuka cita
membaca novel-novel terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU). Logo GM di pojok
kanan atas terpatri di benak Yulia. Ia berangan, suatu hari buku-buku dengan
namanya tercetak di sampul depan berlogo GM. Tahun-tahun berlalu. Yulia Loekito
menulis cerita anak dan mengajukan naskah ke penerbit kesayangan. Naskah itu
diterima. Agustus 2016, pembaca cilik Indonesia berjumpa dan bermain bersama
Duper si tikus di buku Duper dan Sifon dan
Duper Tikus Gemuk Bermata Jeli. Di
sampul, tertera nama Lia Loeferns, nama pena Yulia Loekito.
“Di halaman depan itu aku
lihat ada logo itu, dan itu terlihat sangat sama dengan logo GPU yang selama
ini aku lihat di buku-buku yang aku baca. Terus aku seneng dan mbrebes mili,” tulis Yulia di pesan Whatsapp, 22 Januari 2018. Sampai
sekarang, Yulia telah menulis enam buku. Semua berlogo GM di kanan atas: Duper: Mencari Tikus Besar Berbulu Hitam (2017),
Duper dan Pak No Pengrajin batik (2017),
Tan: Mengangguk (2017), dan Tan: Memancing (2017). Yulia
menghidupkan logo GM terus-menerus di benak, lalu logo itu benar-benar
menghampiri dan menjadi hidupnya.
Kita pun terbiasa membaca
di akun-akun media sosial buku anak GPU: “Ingat, hanya buku anak yang berlogo
GM di kanan atas!” Si penerbit menanam benih ingatan pada buku lewat logo. Godaan
pada mata lewat logo mendahului pengelanaan di belantara huruf dalam buku.
Penerbit seperti ingin memberi warta, logo GM di kanan atas adalah lisensi
mutlak pengantar bocah pada buku-buku seru nan bermutu.
Huruf
dan Gambar
Logo penerbit menempel di
sampul depan dan belakang memiliki rupa-rupa corak. Gramedia, Mizan, Nalar,
BasaBasi, LKiS, Lentera Dipantara, atau Indonesiatera yang sudah kukut
mengandalkan kekuatan tipografis huruf (logotype)
untuk menggoda mata pembaca. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Bentang, Banana,
Oak, Komodo Books, Kakatua, Balai Pustaka, Kompas, Mata Bangsa, dan Pustaka
Jaya memilih paduan gambar dan huruf. Seorang bocah memanggul setandan pisang,
bocah membaca buku di punggung kerbau, dua belah tangan bertangkup, pohon oak,
komodo, burung kakatua, ayam, dan buku menjadi pilihan gambar di logo.
Corak huruf dan pemilihan
gambar flora, fauna, dan benda terutama buku untuk logo penerbit Indonesia bukan
perkara baru. Tahun 50-an, perbukuan Indonesia telah bergumul dengan huruf dan
gambar di logo meski sepertinya belum serius banget. Logo penerbit tidak begitu
diperhitungkan tatanannya di halaman sampul depan, dalam, atau belakang, dan
bagaimana mata pembaca diharapkan akan bertemu logo.
Kita melihat sampul buku Kapustakan Djawi garapan Prof. Dr R. M.
Ng. Poerbatjaraka. Buku diterbitkan oleh Penerbit Djambatan. Di sampul depan,
pembaca tak melihat logo. Hanya tertera tulisan “Penerbit Djambatan” dalam huruf
serif miring, tertata di tengah,
tepat di bawah judul. Pembaca baru bertemu logo di sampul bagian dalam. Mata
pembaca berjumpa buku terbuka berlatar pohon beringin. Di bawah gambar, terbaca
“DJAMBATAN”. Logo seperti ingin mewartakan, buku-buku terbitan Djambatan
rembuyung oleh kata-kata menyejukkan bagi pikiran. Seolah tak yakin pembaca telah
tahu, tulisan “Penerbit Djambatan” dengan huruf kapital masih dipaksa tertulis
di bawahnya. Penulisan nama penerbit di sampul depan dan dalam tak menentu. Penerbit
belum mempertimbangkan porsi mata memandang logo. Logo belum dianggap sebagai
identitas penerbit yang memiliki ketetapan tak diganggu gugat dalam cara
menulis.
Buku Pengetahuan Umum tentang ‘Ilmu Mendidik garapan St. Muh. Sa’id dan
Mahmud Junus diterbitkan Noordhooff-Kolff N.V. Djakarta pada 1953. Di sampul,
pembaca menatap logo besar penerbit di bawah nama pengarang: sebuah buku
terbuka dalam posisi miring, di atasnya huruf n dan k besar dalam kontras
mencolok. Buku yang dipilih sebagai gambar di logo, tentu bermaksud tak lain
selain mengabarkan, Noordhooff-Kolff N.V. Djakarta adalah penerbit buku, bukan
penerbit iklan atau makanan ringan. Logo diterakan di tengah berukuran agak
besar, mendahului mata bertemu logo ketimbang penulis buku. Pembaca seperti
hendak diyakinkan oleh logo berukuran besar, buku-buku terbitan
Noordhooff-Kolff N.V. Djakarta yakin bermutu. Di bawah logo, berjarak agak
jauh, tertera tulisan “NOORDHOOFF-KOLFF N.V. DJAKARTA” dan tahun terbit buku. Hanya
gambar dan inisial penerbit rupanya tak cukup meyakinkan penerbit, pembaca
telah mengerti siapa yang menerbitkan Pengetahuan
Umum tentang ‘Ilmu Mendidik.
Tahun 1952, buku Penjedar Sastera karangan Dr. C. Hoykaas
terjemahan Raihoel Amar gl. Datoek Besar diterbitkan oleh J.B.
Wolters-Groningen, Djakarta. Orang-orang di masa lalu tak mengingat penerbit
ini dengan gambar atau paduan gambar dan huruf. J.B. Wolters-Groningen merasuki
mata pembaca lewat garis tipis melintang di bagian bawah sampul dengan tulisan
“J.B. WOLTERS-GRONINGEN, DJAKARTA” dan tahun terbit buku di bawah garis. Di
atas garis, pembaca bertemu harga buku. Penerbit tak ingin pembaca mengingat
lewat gambar, hanya susunan huruf-huruf serif.
Tahun itu, huruf-huruf sans-serif yang
lebih dinamis baru berumur 20-an tahun. Psikologi huruf-huruf serif masih diyakini paling mampu
memberi nuansa percaya, bermartabat, dan otoritatif. Tahun-tahun itu, serif tentu belum menjadi huruf klasik
yang bernuansa tradisional-konservatif. Penerbit J.B. Wolters-Groningen merasa
huruf-huruf serif dengan segala
perangkat emosionalnya sudah mampu menguarkan pribadi penerbit.
Kita bertemu barisan
huruf sans-serif di buku Himpunan Aneka Sari (Puspawarna untuk
S.M.P., S.G.B., dan S.M.A.) oleh Tardjan Hadidjaja, terbit tahun 1951 oleh Kementerian Pendidikan Pengadjaran dan Kebudajaan
Republik Indonesia. Kementerian sebagai penerbit ditulis dengan huruf sans-serif yang dinamis, stabil,
objektif, dan terasa lebih terbuka. Lewat pilihan huruf, pembaca boleh memberi
prasangka, Kementerian Pendidikan masa itu menginginkan kemajuan pendidikan
Indonesia tak cuma asal membuat kebijakan baru, tapi memberi perhatian pada
kebutuhan para pembelajar dan keadaan negara mutakhir.
Penerbit Widjaya,
Djakarta mengeluarkan buku Sedjarah
Perdjuangan Indonesia garapan Muhammad Dimyati pada 1951. Di bagian bawah
sampul, pembaca bertemu logo penerbit, seekor elang terbang mencengkeram buku
dengan cakarnya. Tulisan “Penerbit Widjaya Djakarta” dengan huruf-huruf sans-serif berada di sekeliling gambar.
Seperti buku-buku yang diyakini bisa menerbangkan pembaca ke rupa-rupa
peristiwa dan tempat di mana saja, pilihan elang sebagai gambar di logo pun
memiliki harap serupa. Buku-buku terbitan Penerbit Widjaya adalah buku-buku
yang bakal mengajak pembaca melanglang ke mana-mana.
Lima logo penerbit pada
tahun 50-an memberi rupa-rupa nuansa pada mata. Gambar buku masih paling
dipercaya untuk mendefinisikan penerbit hingga sekarang. Penerbit tak ingin
mata pembaca hanya berjumpa penulis dan tulisannya. Penerbit menginginkan
pembaca bertemu logo meski logo belum jadi pertimbangan paling penting yang
tergarap saksama.
Sejak berabad silam, logo
telah menjadi salah satu ruh brand.
Di luar jagat perbukuan, milyaran manusia mengingat logo Coca-Cola dalam bentuk spencerian
script dan dominasi warna merah serupa sejak ia dibuat pada 1886 oleh John
S. Pemberton (Born in 1842. A History of
Advertising, 2006). Jutaan benda imitasi berlogo Nike dengan centang legendaris itu terus-menerus diproduksi
bersamaan dengan benda-benda asli yang berharga jutaan. Orang-orang bukan ingin
sekadar mengenakan sepatu, kaus, tas, atau wadah minum. Mereka ingin terlihat
berlogo Nike. Steve Jobs pun
barangkali tak menyana, logo apel krowak itu
bakal menjadi ambisi hidup jutaan manusia di jagat raya.
Di padang perbukuan, aku
belum pernah menemui narasi komunal fantastis seperti yang terjadi pada
logo-logo mendunia itu. Kita pun meragu, lima logo tahun 50-an yang tercuplik
di atas sempat terus menghuni batin pembaca Indonesia sampai hari ini.
Sebagaimana pada buku yang berwatak amat individual, logo-logo penerbit
barangkali hanya sangat berarti bagi pembaca tertentu di negara tertentu.
(Logo) penerbit hampir sulit menjadi ingatan bersama pembaca dunia terutama
sebab terantuk perkara bahasa. Keajaiban dunia sihir di serial Harry Potter
tidak datang ke pembaca Indonesia lewat Bloomsburry, penerbitnya di London
dalam bahasa Inggris, tapi lebih lewat J.K. Rowling yang hak terjemahan bahasa
Indonesianya dimiliki Gramedia. Pembaca Indonesia pun lebih mengingat logo GM
di kanan atas daripada Bloomsburry.
Tak seperti logo untuk
benda dan peristiwa lain, logo penerbit juga mengalami dilema identitas
berhadapan dengan penulis. Carlos Brauer di Rumah
Kertas garapan Carlos Maria Dominguez
tidak berambisi pada (logo) penerbit, tapi penulis. Tiap celah di rumahnya,
dari ruang tamu sampai kamar mandi tak luput oleh buku-buku dan majalah edisi
pertama dan paling langka yang ditulis oleh penulis-penulis lengendaris dunia.
Buku-buku pertama sudah
dicetak jauh sebelum imajinasi tentang logo terbentuk. Orang-orang perbukuan
tak bisa menolak, mereka lebih banyak menyimpan nama penulis di hati dari pada
mengendapkan logo satu penerbit selama hidup. Penerbit-penerbit anyar di sisi
jalan indie pun banyak memutuskan
menggoda mata pembaca lewat penulis-penulis moncer, entah dalam karya
terjemahan, atau menampilkan penulis Indonesia yang telah dikenal pembaca. Logo
mendapat urutan perhatian ke sekian setelah penerbit memiliki “pribadi” lewat penulis-penulis
yang dia munculkan. Kita pun jarang bertemu penulis, apalagi penulis kelas
dunia yang seumur hidupnya berlogo hanya satu penerbit.
Di buku, logo penerbit
dan (logo) penulis diam-diam bersekutu atau saling mendahului. (Pernah dimuat di almarhum pocer.co, awal tahun 2018.)


Komentar
Posting Komentar