Raga Seorang Rohaniwan
Bagi seorang awam, raga tak lebih penting daripada roh.
Tanpa raga, sebentuk roh tak menemu tempatnya hidup dan merasa. Tanpa roh, raga
hanyalah gumpalan daging dan tulang-belulang yang bergerak ke sana ke mari.
Bagi seorang rohaniwan atau pemuka agama mana pun, sebenar iman adalah saat ia
bisa meninggalkan segala hasrat ragawi. Tapi, bagaimanapun, seorang rohaniwan
jua seorang manusia yang memiliki sifat-sifat manusiawi sebagaimana ribuan
umatnya yang awam.
Y. Wastu Wijaya atau Romo Mangun Wijaya menarasikan pergolakan
batin Romo Rahadi, seorang rohaniwan saat menghadapi “ujian” iman Katolik di
novel Romo Rahadi (2018). Rahadi
menanggung nasib sebagai anak bungsu yang dimanja oleh kakak-kakak
perempuannya. Ia lahir dari keluarga katolik harmonis. Saat remaja, Rahadi
berteman lekat dengan Rosi, yang juga ia cintai. Saat Rahadi masuk Seminari, ia
mesti memberi jarak pada Rosi untuk mencegah “hal-hal yang tidak diinginkan”. Pada
waktu itu, Rahadi belum begitu mengerti. Ia hampir menolak keputusan Rosi
menjauhkan raga darinya.
Tahun tahun berlalu, Rahadi yang telah jadi imam Katolik
bertugas di Jerman. Pada satu misa sangat pagi, seorang perempuan datang
padanya. Mulanya ia hanya diam menghadapi permintaan tolong Hildegard. Saat
mereka berjumpa lagi dan bertukar kata di sebuah kedai kopi, Rahadi telah
menetapi hati menolong perempuan berjiwa rentan itu. Hildegard yang lahir di
Vietnam pada masa perang merasa tidak pernah selesai dengan dirinya.
Hari-harinya adalah penderitaan dan pencarian tanpa henti. Rahadi pun mengakui,
sejak mula bertemu dengannya, ia akan dengan mudah menyayangi perempuan ini. Ia
tegaskan: sayang sebagai sesama manusia yang ingin saling menolong. Tapi ia pun
tak bisa menghindar dari kemungkinan yang muncul atas kedekatan seorang lelaki
dengan seorang perempuan.
“Hildegard datang tanpa kuundang. Ia termasuk tugas
penunaian panggilanku juga. Bahaya yang mengancamku akan terkena asmara pada
kewanitaannya sudah kuketahui. Ia cakap dan tubuhnya indah. Menolong jiwa
wanita sering tidak lepas dari konsekuensi mendekap tubuhnya. Sering itu tidak
bisa dielakkan, sebab esensi wanita lebih menjelma dalam raganya dibandingkan
pada pria” (hal. 55). Matanya jujur mengakui keindahan tubuh Hildegard. Rahadi,
rohaniwan itu tahu apa yang bisa terjadi padanya. Ia bisa saja tidak bisa
menahan diri dan “mendekap tubuhnya”. Tapi kemungkinan keruntuhan iman sebagai
imam Katolik itu ia terima juga. Ia memenuhi panggilan meminta tolong dari
sebuah jiwa yang terlunta.
Hildegard dan Rahadi pun berteman karib, sampai mereka
mesti berpisah: Rahadi pulang ke Indonesia sedang Hildegard lari ke berbagai
belahan dunia pula untuk melupa pada Rahadi. Sampai pada satu kala, Langit
memutuskan menjumpakan mereka kembali di sebuah pesawat dakota bobrok tujuan
Papua. Rahadi yang sedang goyah ditugaskan “beristirahat” di rumah Mas Swan,
kakak iparnya yang seorang TNI, Hildegard dalam misi antropologis menuju
belantara Papua bersama serombongan peneliti Jerman.
Di sela kegembiraan atas pertemuan kembali, mata Rahadi
tak bisa menghindar pada raga yang ada di hadapannya: “Dari celah baju batiknya
kunikmati lekuk lembah di antara dadanya.” Di pesawat, dua orang merindu itu
saling menggenggam tangan jua. Tapi mata yang ragawi memerosokkan hati Rahadi
pada perenungan: “Di antara kedua pipi buah dada itu setiap manusia untuk
pertama kalinya merasa terjawab segala persoalannya. Segala yang melambangkan
kepastian dan keabadian, aneh sekali, seolah-olah selalu berjalan dalam
lengkung. Dari perjalanan bintang-bintang di sekian galaksi maharaja sampai
pada bakteri-bakteri ... dan buah dada perempuan yang menguasai dunia intim
sekian banyak penguasa dunia” (hal. 58). Peristiwa ragawi menjadi pengantar
pada pemaknaan rohani. Di buah dada perempuan, ada keheningan kudus, tempat
kehidupan manusia bermula dan berpulang.
Di Papua, Hildegard mengalami bencana. Bersama
rombongannya diculik oleh satu suku, di bawa ke pesta orgi (seks). Raganya
mengalami siksaan paling pedih sebagai perempuan. Rahadi dan serombongan TNI
menempuh ratusan kilometer untuk mencari dan menyelamatkan. Perjalanan panjang
ditempuh dengan helikopter dan berjalan kaki. Rahadi, sang rohaniwan itu
bergolak lagi. Kala itu, ia merasa ragalah yang lebih dibutuhkan untuk,
menerabas belantara sampai melukakan tubuh untuk sampai pada Hildegard. Rahadi
meragu: “Begitukah pandangan umum tentang tugas rohaniwan? Semacam dukun dan
penghafal mantra-mantra, yang tidak tahu apa-apa selain ayat rohani? Betapa
agung pangkat rohaniwan. Tetapi betapa hampa terasa dalam saat-saat seperti
ini.”
Saat Hildegard berhasil diselamatkan, raga itu telah
lebur. Ia tak mampu bertahan. Tapi dalam kehancuran tubuh, Hildegard menemu
damai yang selama ini dicari. Rahadi, rohaniwan itu mesti mengikhlaskan. Ia pun
merasai, pada raga yang telah mengalami hinaan paling pedih pun terdapat
kedalaman rasa yang bersifat rohaniah. “Seharusnya perbedaan kasta rohaniwan
dan awam atau ‘ragawan’ harus hilang. Kita manusia, dan pemisahan antara rohani
dan jasmani jauh lebih merusak dan membius daripada menolong. Aku
tersayat-sayat mengalami pemisahan itu, yang dari satu pihak untukku punya
dasar Wahyu, akan tetapi dari pihak lain terlalu berlemak buatan manusia
belaka. Lemak yang hanya mengganggu dan memperjelek kelangsingan citra manusia,
yang sebenarnya indah dan utuh” (hal. 260-261).


Komentar
Posting Komentar