Pada Suatu Tapi
Aku bodoh sekali. Aku bodoh sekali, berkali-kali lagi.
Jari-jariku terlampau malu untuk menambah keluh soal pertengkaran dengan
bahasa. Tapi, tapi, tapi, dan tapi. Tapi kata mesti tertulis biar setidaknya
bisa terasa keluar dari pikiran yang memenuh-menuhi isi kepala. Kata tiada, aku
tak ada. Gambar-gambar ada, aku tidak juga ada. Semua tergores dalam
ketergesaan selalu. Semua bukan aku. Gambar-gambar terlampau lugu, terlampau
tidak berkesadaran teknik, latar, segalanya. Dua tahun masa pamit hampir
berakhir dan jari-jari mengetik ceracauan kacau dalam kemiskinan, berkali-kali
lagi. Percaya ada, lalu lenyap lagi. Aku siapa. Aku di mana. Ingin memaki, tapi
pacar tak menghendaki. Aku mau mati saja, tapi belum kaya raya. Aku harus
hidup, entah hidup yang seperti apa dan bagaimana. Seperti sudah di jalan, tapi
masih sering gelagapan. Oh, tapi.
23 Juli 2019

Komentar
Posting Komentar