Buto Itu
Beberapa tahun lalu, saat aku mulai sadar pada kejahatan
negara, terutama Orde Baru, aku membayang-bayangkan bagaimana cara orang-orang
hidup di masa itu. Apakah semua orang menyimpan hantu ketakutan yang sama,
apakah semua orang diam-diam memiliki musuh yang sama: negara.
Di hari yang terlalu baik-baik saja, kadang aku penasaran
bagaimana kalau situasi semacam itu kembali lagi—saat kita sekarang masih mewarisi
banyak watak Orde Bau di banyak hal. Apakah aku bakal jadi bagian dari pemuda yang
hari ini dengan heroik bilang, “Apakah generasi pasca-Orde Baru pernah dengar nama Ivan Illich?” karena dulu merekalah yang melawan rezim dengan sejumlah kekuatan
intelektual mumpuni? Atau aku bakal jadi bagian mereka yang berusaha menjalani
hidup sebisa mungkin, jauh-jauh dari bahaya walau menyimpan kecewa pada buto bernama negara.
Dulu, kukira pikiran itu hanya sebentuk rengekan anak muda
yang ingin mendapat halaman khusus di sebuah buku sejarah seperti para
reformis awal. Tapi mungkin pikiran-pikiran itu tidak sejauh yang aku bayangkan.
Dalam kesadaranku yang sedikit dan ketidakpercayaan generasi ’98 yang sangat
berjasa membebaskanku dari rezim Orde Bau, aku tahu sejarah buruk sedang
terjadi sekarang.
Peristiwa-peristiwa menyedihkan menyandera pikiranku berhari-hari belakangan. Rencana pemindahan ibukota yang dokumen hasil kajiannya—konon selama tiga tahun—gaib, disertasi seorang dosen yang dimentahkan begitu saja oleh warganet atas nama moralitas agama "hanya" dari judul, tuntutan pengesahan RUU PKS yang alot, pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, pemakaman Komisi Pemberantasan Korupsi, rencana pengesahan Revisi KUHP yang akan sangat mempermudah negara melakukan kriminalisasi pada warga negaranya sendiri, dan Ya Tuhan, mengapa di dunia ini mesti ada makhluk hidup bernama Anies Baswedan dan Widodo Muktiyo. Sementara mencemaskan semua ini, kebakaran hutan hebat terjadi di Sumatera dan Kalimantan, dikomentari dengan tidak masuk akal oleh negara…
Ada lebih banyak lagi peristiwa menyedihkan terjadi,
termasuk kemiskinan yang aku alami sendiri, entah untuk berapa kali lagi. Aku
masih berusaha berfungsi setiap hari dengan melewatkan matahari pagi, makan
telat, bekerja, dan pacaran. Tapi berita-berita buruk ini tetap saja jadi
obrolan serius berseling gojekan dan gorengan dengan teman-teman selingkaran
kecil sekali walau tidak tersiar dengan brutal penuh amarah di mana-mana.
Kita tahu dan sadar, Orde Bau sedang dibangkitkan dari kubur
yang bahkan nisannya belum sempat kokoh ditancapkan sejak 20 tahun lalu. Hal yang
lebih menyedihkan, aku tidak tahu bisa melakukan apa selain hanya harus menulis
walau rongsokan untuk melegakan diri. Di dalamku, ada kesadaran menyakitkan kalau semua yang terjadi ini lebih sungguh karena pertarungan ekonomi daripada perkara politik penuh komedi gelap.
Sewaktu mahasiswa, aku sudah tidak lagi percaya pada demo di
jalanan, pun sekarang saat demo-demo mulai dilakukan untuk menuntut negara. Aku
agak ingat apa yang pernah Ariel Heryanto katakan tentang demonstrasi di buku Perlawanan
dan Kepatuhan di masa kuliah Komunikasiku bertahun lalu, sebuah kutipan
jauh dari puitis: demonstrasi
sejatinya adalah “pemberontakan terhadap berbagai cara atau bentuk komunikasi
lain yang telah dikenal umum dan diresmikan sebagai yang lebih pantas, absah,
terhormat atau santun”. Andai begitulah yang terjadi hari ini. Senyatanya,
orang-orang bisa dengan mudah dibayar untuk berdemo demi membela atau menentang
sesuatu yang tidak sungguh mereka tahu. Demo jalanan sering kalah telak
dibanding demo digital lewat tagar—yang juga mengalami manipulasi mengerikan. Untuk
menulis sebuah esai tanpa terjebak nasionalisme gaya lama yang juga terasa
tidak masuk akal hari-hari ini pun, aku tidak punya cukup pengetahuan memadai.
Ah, aku pun khawatir ini hanya akan menjadi kemarahan kesedihan yang
hampa kosong melompong.
Akhirnya, yang masih terjadi sampai sekarang hanyalah saling
mengobrol, mengobrol, dan mengobrol membagi kesedihan absurd terhadap negara,
sambil melakukan hal-hal kecil sebisanya walau terasa jauh sekali dari peristiwa-peristiwa
ini.
Aku sudah menjadi penyebal negara sedikit dalam semua lini
kehidupan sejak cukup lama. Tapi aku belum pernah merasa sesedih ini pada
negara sependek hidupku yang masih panjang. Aku belum pernah merasakan penganiayaan
negara bertubi-tubi seperti sekarang. Aku agak merasa bodoh menangisi hal yang
(seolah) jauh dari diriku ini. Apalagi, senyatanya hidup yang paling dekat
denganku sekarang adalah tubuh yang rongsokan, gambar-gambar yang minta
diselesaikan, dan kumbahan yang mumbruk berkali lagi.
Aku mendengar suara orang mengaji jelang subuh dan ingat
para pemabuk agama. Aku melihat tumpukan buku-buku-buku yang belum aku baca dengan
membabi buta. Aku melihat kamar kosan tiga kali tiga berharga murah yang
ternyata disubsidi negara. Senyatanya, negaralah yang selalu hadir lebih dekat
di hidup semua orang Indonesia dibanding banyak hal lain lewat aliran listrik yang
mesti dibayar tiap bulan, pajak makan di Warung Steak, di gas elpiji tiga kilogram,
jalanan berlubang yang kita umpat, di baju seragam sekolah yang dipakai oleh anak
tetangga, di sekarung pupuk yang dibeli bapakku, di harga lombok brambang
bawang… dan kita masih juga bertanya-tanya, "Kenapa kita mesti berduka untuk banyak hal yang berjarak begitu jauh dari diri kita, seperti negara?"
Aku tidak tahu, apakah mereka yang pernah mendengar nama
Ivan Illich, semua yang pernah mendengar nama Ivan Illich tanpa kecuali, sedang
berbagi duka yang sama.

Komentar
Posting Komentar