Di Sini dan di Sana
Sapardi Djoko Damono (SDD) lahir di Solo, tapi Sapardi Djoko Damono berusia 80 tahun di Ciputat. Perayaan ulang tahun terjadi jagat maya, tidak di Solo atau Ciputat. Pada tengah malam, Jumat, 20 Maret 2020, SDD melakukan siaran langsung dan pembacaan puisi di Instagram. Raga itu menua. Teknologi mutakhir menjelmakan dirinya muda. Jari-jarinya tak gentar pada layar tanpa tombol. Penggemar-penggemar di abad XXI mengirim kasih lewat gambar hati dan rupa-rupa emoji.
Bagi generasi lawas, SDD tetap saja buku. Kehadirannya mewujud pada lembar-lembar kertas berjilid, menemu pembaca-pembaca tak bernama di mana saja. Sajak, prosa, esai, dan buku-buku teori sastranya merajut kedekatan batin pembaca dan penulis. Pada suatu masa, pertemuan dengan penulis adalah berkat tak ternyana. Hari ini, kita bisa “bersua” penulis yang kita sukai dalam sekejap mata lewat jagat maya.
Saat saya di Solo sejak beberapa tahun yang lalu sebagai mahasiswa UNS dan ilustrator lepas, SDD tidak lagi di Solo. Internet akhirnya melipat jarak Solo dan Ciputat, tetapi tak seperti buku Sapardi Djoko Damono yang berjudul Melipat Jarak, berisikan puisi-puisi pilihan yang ia gubah selama puluhan tahun. Internet pulalah yang memungkinkan saya terlibat dalam pengerjaan gambar untuk sampul buku kumpulan cerpen SDD, Menghardik Gerimis (2019).
Di buku, Solo masih setia jadi latar cerita. Cerpen Layang-layang mengisahkan seorang anak lelaki mengejar layang-layangnya yang putus di alun-alun Kasunanan. Bapak si anak lelaki adalah abdi dalem, seorang yang fasih menatah wayang kulit dan memeroleh panggilan “Ki”. Layang-layang putus yang teramat dia sukai itu dilukisi oleh sang bapak yang melayangkan harapan, kelak anaknya akan jadi orang. Peristiwa pengejaran layang-layang melewati tempat-tempat nostalgis di Solo bagi SDD. Solo menyimpan masa kanak dan bertumbuh, membuahkan cerita-cerita di hari tua.
Semasa di Solo, SDD mengalami beberapa kali perpindahan tempat tinggal. Dari lingkungan priyayi yang nyaman di daerah Ngadijayan ke Komplang, sebuah wilayah utara Solo yang sepi. Solo juga jadi saksi saat SDD dan almarhum Jeihan mereka-reka masa depan di sela “membolos” sekolah. “Selama menjadi murid di SMA, kami sangat sering pergi ke tempat sepi, seperti kerkop, dengan alasan yang lebih sering dicari-cari. … Selalu saya katakan ingin menjadi penulis dan dengan tegas pula ia membayangkan dirinya sebagai pelukis.” (Tempo, 7 Desember 2019). Dua orang yang berhasil mencapai mimpi, yang memberi andil perkembangan sastra dan rupa di Indonesia.
Bersastra di Jari
Sajak-sajak pun mengalir dari jari-jarinya. SDD menulis sajak-sajak awal dengan pena di atas buku bergaris yang kini tintanya sudah memudar tergerus waktu. Buku Manuskrip Sajak (Indah Tjahjawulan, 2017) memuat potret/pindaian manuskrip puisi-puisi SDD bertulisan tangan. Di sana, agak sulit terbaca, tulisan tegak bersambung ramping yang miring tajam ke kiri. Goresan tangan itu berjarak rapat-rapat, terselingi coretan di beberapa bagian. Itulah huruf (font) milik SDD sendiri.
Dengan corak huruf itu ia menggubah sajak “Surakarta”, tertanggal 30 Desember 1958: Aku jang paling kenal, kerna lahir disana/ Gedung-gedung menatap megah orang tanpa rumah/ Dan bengawan solo dipinggir kota/ Mengalir dan mengalir// […] Temasa siang malam sriwedari mana djuapun/ Orang orang pura pura datang berdujun/ Dan kali pepe bergerak mengangkut sampah/ Keluh jang mereka tinggal dalam rumah. Solo dan rupa-rupa kota masih memiliki kisah yang sama sampai kini. Gegung-gedung, sungai, tempat hiburan, dan lansekap rumah masih setia memberi cerita tentang asa dan kepapaan orang kecil. Di masa panen atau pagebluk, merekalah yang senantiasa menikmati limpahan ujian, masa demi masa.
SDD terus menulis, sajak demi sajak, buku tulis demi buku tulis. SDD bersastra dengan jari sebelum beralih ke mesin tik. SDD pun berganti huruf, dari tulisan tangan miliknya sendiri yang otoritatif ke huruf mesin tik tebal-kaku yang coraknya masih lekat di benak kita. Mesin tik belum memungkinkan Sapardi memilih pusparagam huruf demi nuansa tulisan.
Tahun-tahun berlalu, SDD bersastra dengan layar. Jari-jari tuanya kini lebih karib bersama susunan papan ketik QWERTY daripada huruf-hurufnya sendiri. Saat setumpuk buku berbagai judul karya SDD sampai di kos saya, sebuah amplop besar putih menyertai. Apakah ini angpao, kata hati saya.
Saya bukalah amplop itu. Sebuah kertas terlipat. Oh, surat! Saya membuka dan menemu kembali huruf-huruf hanya milik SDD itu. Goresan-goresan huruf terasa bergetar, mleyot-mleyot persis seperti tulisan tangan bapak saya yang sudah sekian lama tak pegang pena. Di kertas, tertulis surat super-pendek: “Nay,” berlanjut usaha menggambar bunga matahari seperti yang biasa saya kirim di pesan untuknya, lalu sebuah gambar hati yang besar. Di bawahnya, tertera tanda tangan sama yang telah ia bubuhkan pada ratusan buku demi pembaca, terbaca demikian: Damono. SDD masih memiliki hurufnya sendiri dan ia pun telah fasih memasuki bahasa anak muda kiwari, bahasa sepatah dua patah kata dengan banyak emoji.
Ia mungkin sudah menyerahkan huruf-huruf yang hanya bisa “dicetak” oleh tangannya itu untuk dimiliki masa lalu, lalu ia terus melaju. Ia sepertinya ikhlas tak mau terus hidup di masa lalu dan nekat bersastra dengan cara-cara lama, repot dan melelahkan. Berganti teknologi tulisan, Pak Tua itu senyatanya terus nekat berurusan dengan kata-kata. Kompas, 23 Maret 2020 merekam pengakuannya, “Saya merasa justru sekarang ini, saya harus meneruskan yang saya sukai, yaitu menulis. Setiap hari saya ngetik.” Artinya ngetik bukan lagi jari-jari di mesin tik atau komputer. Ngetik itu mungkin saja sentuhan jari-jari di papan gawai, bukannya pukulan jari yang keras. Di layar, SDD kini bisa memilih pusparagam jenis huruf elok. Ah, mungkin dari sekian banyak jenis huruf, dia lebih sering memilih Times New Roman ukuran 12. Oh, dia masih manusia lawas.
Bersastra di Rumah
Sajak-sajak mengalami perpindahan “rumah pertama”, dari lembar-lembar buku tulis bertulisan tangan ke perangkat lunak pengolah kata di layar. Pada ulang tahun di masa wabah tak menentu, SDD pun tidak berada di Taman Ismail Marzuki (TIM), tempat yang rencananya digunakan dalam peringatan usia 80 tahun dengan pementasan beberapa seniman. Ia memilih di rumah.
Rumah juga penanda penting bagi biografi SDD. Di prosa dan puisi, rumah jadi tempat menangguk arti hidup keseharian dan pergeseran kelas sosial pada suatu masa. Di novel Suti (2015), kita menyaksikan masa-masa “kejatuhan” para priyayi: “Rumah-rumah besar di sekeliling Kraton, warisan dari nenek moyang, satu demi satu jatuh ke tangan pedagang keturunan Cina atau Arab atau Jawa dari Laweyan, sebuah kampung yang berkat niat dan kegigihan dahsyat dari warganya menjadi kawasan elit. Para raden yang melarat itu pun bergeser ke batas kota, minggir atau dipinggirkan.”
Saat SDD dan keluarganya mesti “minggir” ke Komplang yang sepi, rumah jadi tempat semadi yang mengantarnya ke perenungan-perenungan tentang diri, keluarga, dan cita-cita. Sajak “Di Rumah Tua” terbaca apik dalam kesunyiannya yang syahdu: Rumah tua jang baring lesu meminggir kota/ Kusua disana kedamaian bergajut pada tjita-tjita/ Singgahlah didada omong ibu bapa malam demi malam/ Dunia jang kukenal sedari masa sekolah rendah// Rumah tua jang bersandar pada tjagak kedamaian/ Pasrahnja sebuah hati// menampakkannja begitu gemilang/ Udjian memang memenatkan tapi telah menemu akir/ Sore sore diwaktu sore o kubiar usiaku ditimang. Puisi mengingatkan kita pada masa yang terasa begitu purba saat kita memulai bermanusia dari rumah, sebuah pusat semesta yang sempat begitu kita kenal sebelum ia digilas kesibukan: tapakan pertama semasa kecil, doa ibu di tiap makanan yang tersaji, menanam bayem memuliakan tanah di belakang rumah.
Hari-hari ini, rumah memanggil kita kembali untuk didiami. Saya pun memutuskan tidak mudik sampai wabah berlalu, memilih berumah di buku SDD. Buku-buku SDD pun ada di Bilik Literasi (Karanganyar), di rumah penerbit Babon (Boyolali), di rumah kekasih (Sukoharjo), dan rumah-rumah lain yang tak terhitung banyaknya. Kita terpisah di rumah-rumah, tapi bersama di buku. Seminggu lebih tak bersua kekasih, mungkinkah ia pun sedang membaca SDD, dan sampai pada akhir sajak “Di Rumah Tua” yang menyalakan harapan “hari depan tersedia”: Hati serta rumah tua telah berpagar rasa sukur/ Bukanlah sengaja kalau kupanggil kenang lama/ Ah walau aku tak mau, jang lewat takkan pulang/ Dan kususun sadja perslah buat hari depan tersedia. SDD memiliki sajak yang lama dan baru, kita masih membaca sambil memuji ketuaan tak bisa membutanya cuma ongkang-ongkang atau nglangut di rumah. Ia terus saja “beredar” di buku dan jagat maya mendatangi kita.[]


Komentar
Posting Komentar