Sebuah Tempat
Obrolan panjang atau diam yang tidak kosong menjadikan tempat sering lesap, bahkan waktu.
Sabtu, 9 Mei 2020Aku memutuskan umbah-umbah sejumput pakaian saat hujan mulai menderas. Lekas kukucek kain-kain basah itu sambil melamunkan seorang gadis berkerudung yang sedang bermain dengan seekor anjing Shiba Inu miliknya. Latar gambar berganti-ganti. Satu detik di sebuah padang rumput kecil penuh bunga-bunga, detik lain mereka berpindah ke bawah sebuah pohon dengan jalanan berbatu yang ramai oleh daun-daun kering. Eskpresi dua makhluk itu sama: berbahagia. Adegan ini mungkin berasal dari sebagian diriku yang menginginkan seekor anjing berbulu lebat seperti serigala dan menyadari keinginan itu tidak akan terwujud. Tidak apa-apa. Aku tidak akan patah hati.
Hujan benar-benar menderas saat sebuah gaun tidur panjang, kerudung, dan kaus berhasil kujemur di tempat aman. Waktu tiba-tiba menjadi tepat untuk menulis. Aku meninggalkan anjingku sejenak di kertas dan menggambar sebuah adegan baru dengan huruf-huruf dan kata-kata. Wajah Han yang akan berulang tahun terbayang. Beberapa hari lalu, kubilang padanya aku tidak tahu akan menghadiahi dia apa. seperti selalu, dia bilang, nggak ngado juga nggak apa-apa.
Mungkin aku akan datang padanya benar-benar dengan tangan kosong kalau jelang sore tadi dia tidak mengabarkan postingan Facebook seseorang bernama Sadina Sadina. Akun itu sedang menjual Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) susunan Poerwadarminta bertahun 1952. Itulah kamus yang dijadikan penulisan KUBI (lalu KBBI) selanjutnya oleh negara, yang luput menyebut cetakan pertama sebagai 1953. Di rakku ada KUBI terbitan Balai Pustaka bertahun 1976. Konon, itu kali pertama kesalahan penulisan tahun cetakan pertama KUBI terjadi dan tak pernah ada pembenaran sampai sekarang.
“Aku dikado itu yo nggak nolak, Yang.” Ah, tentu saja. Dengan senang hati kuiyakan permintaan itu. Sebuah KUBI susunan Poerwadarminta dan Kamus Modern Bahasa Indonesia susunan Sutan Muhammad Zain resmi jadi penanda usianya tahun ini.
Saat tiba kejadiannya nanti, dia tidak akan terkejut. Dulu, dia pernah bilang tidak suka keutan. Mungkin itu sebabnya kami hampir selalu ke tempat itu-itu juga kalau makan dan nongkrong. Sekali waktu, pernah juga kami ingin mengejutkan diri dengan nongkrong di tempat baru, tapi akhirnya kami kembali ke tempat lama dengan menu itu-itu juga, bertahun-tahun.
Salah satu edisi nongkrong yang paling kuingat terjadi di Café Tjeret alias angkringan Pak Hono yang ada di ujung dalam gang di depan Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT). Aku sudah lupa kami memesan apa. Mungkin mi goreng (adanya selalu sedaaap), sate usus (kalau lagi enak), beberapa gorengan, es teh (untukku), dan es good day (untuk Han).Obrolan malam itu adalah kemungkinan Han menjalani profesi sebagai antropolog sinetron. Daripadaku, dia lebih berpengalaman menyaksikan sinetron. Suatu kali, dia pun pernah membagi cerita bagaimana puisi Sapardi ikut terkutip di sebuah sinetron dalam sebutan “quote”. Kita pun bisa mulai penasaran, bagaimana posisi sastra dalam layar kaca kita? Menyadari betapa sinetron masih menjadi hiburan utama warga Indonesia betapapun muskil adegan dan penempatan iklan dalam dialog atau latar tempatnya, ia (sinetron) mestilah menyimpan sebentuk representasu katarsis kelas menengah ke bawah pada hidup yang lebih tak masuk akal, dan sebagainya dan sebagainya, banyak lagi yang bisa dipikirkan.
Kami tak bisa membayangkan akan bagaimana kehidupan seorang yang nekat menjadi antropolog sinetron setelah menyelesaikan sebuah saja sinetron Indonesia dengan ribuan episode. Tentu saja aku duah tidak ingat detail mana saja yang membuat kami tertawa berkali-kali sampai jauh malam saat itu, tapi aku mengingat dengan jelas bagaimana Han tertawa.
Kami tidak tahu bagaimana kabar Pak Hono sekarang. Malam-malam wabah membuat kami nongkrong terus di depan layar. Dalam celetuk-celetuk kecil, kami berharap Pak Hono bisa bertahan—bersama semua yang mesti menemukan cara lain untuk hidup hari-hari ini.
Wabah seperti menjelmakan dunia jadi sebuah “penjara” sebesar planet. Potret-potret perjalanan ke rupa-rupa tempat berganti masakan-masakan atau peristiwa lain yang mesti dirumahkan entah sampai kapan. Meski terbiasa bekerja dari rumah (atau sepetak kamar kos), ingin juga aku segera pergi-pergi, seperti ke pantai atau gunung lagi. Betapa menyenangkan melihat langit dari dekat, menatap kehijauan yang tidak berkesudahan, minum air hangat, makan mi instan yang rasanya aneh karena tercampur rasa kare… juga betapa menyenangkan bisa mencuri pelukan dan ciuman di tempat semacam itu.Tempat telanjur menjadi salah satu hal penting dalam keberlangsungan peradaban manusia. Tumbuhan dan hewan pun memiliki tempat, tapi hanya manusia spesies yang repot-repot memberi arti di sana dan di sini, sampai sebuah tempat jadi terkutuk tau terberkati. Kenyataannya, meski Tuhan ada di masing-masing hati, umat beragama hampir selalu menuju sebuah tempat untuk bercakap dengan-Nya. Bahkan Tuhan pun memiliki “rumah”. Beberapa tempat telanjur lekat dengan sesosok tokoh, beberapa yang lain bertaut dengan peristiwa besar dan kecil—sebentuk sejarah atau cuilan kenangan. Bagi mata ilmuwan, tempat-tempat tertentu memberi pesan dari sebuah masa lalu yang hilang sejak kepunahan besar pertama sampai masa depan saat manusia jadi penentu segala—spesies hama yang mengerikan atau berhasil menyelamatkan.
Di antara jenis tempat-tempat itu, lebih mudah menemukan yang memiliki arti semata karena keindahannya yang lugu. Tempat-tempat pun menjadi sebentuk cita-cita entak berapa banyak manusia. “Aku ingin keliling dunia.”, “Aku ingin menjelajah Indonesia.” Berapa banyak macam cerita yang memantik gairah kita dengan kata-kata “perjalanan”, “petualangan”, “pencarian”, “misteri”—diksi yang melambungkan pikiran kita ke sebuah tempat yang tak diketahui tapi begitu menjanjikan.
Naluri pergi-pergi semacam ini telah kita warisi sejak manusia modern pertama meninggalkan Afrika puluhan ribu tahun yang lalu. Rasa penasaran yang besar mendorong mereka menjelajah hutan-hutan, menyeberang sungai dan lautan, menyisir pantai dan gurun, dan pada saatnya, mereka pun bersanding dengan para burung di angkasa. Penasaran demi penasaran. Penakhlukan demi penakhlukan.
Tempat demi tempat telah tertandai oleh kehadiran manusia. Entah berapa film, buku, dan lagu yang menaruh nyawanya pada sebuah tempat, lalu, di sinilah kita sekarang. Kita terpenjara di sebuah tempat dan merindukan tempat-tempat lain yang tidak di sini. Kita merindukan perasaan berada di luar sana, membau udara lain, mencecap ketidaktahuan yang menggairahkan dari sebuah tempat tak bernama. Dalam beberapa hal, setelah tubuh dan pikiran babak belur dihajar wabah dan pemerintah, kita hanya rindu berada di luar sana—di sebuah tempat yang berbeda secara ragawi, bukan hanya berpindah dari sebuah ruang maya ke ruang maya yang lain lagi.
Kalau kupikir-pikir lagi, betapa manusia terobsesi begitu rupa pada tempat. Kita tahu di mana saja tempat-tempat terkenal berada dan menabung untuk sampai di sana. Penulis, pembuat film, penyair, bahkan kita sejak masa kanak, menciptakan tempat-tempat imajiner di mana banyak hal hanya benar-benar bisa hidup di kepala.
Mungkin karena itulah kadang-kadang ada orang yang telah sampai di banyak tempat di dunia tapi terasa tidak pernah ke mana-mana. Ada juga yang tidak beranjak dari tempatnya berada, tapi pikirannya terbuka seluas dunia.
Baru-baru ini, aku suka membaca laman The Dusty Sneaker yang ditulis oleh Teddy dan Maesy, pemilik toko buku dan penerbit Post di Pasar Santa, Jakarta. Mereka suka menjelajah ke berbagai tempat di dunia, mengunjungi tempat-tempat tidak terkenal, ke toko buku-toko buku kecil, padang rumput dengan domba-domba berlarian, nyasar di sebuah desa kecil, “bengong-bengong” di sana. Perjalanan mereka berdua terasa menyenangkan-menenangkan dan ditulis dengan gaya yang menghadirkan perasaan sama saat membacanya.Beberapa orang berkomentar ingin mengikuti jejak perjalanan mereka. Tapi yang tersisa dariku bukan itu. Sebuah perjalanan, ke manapun itu tetap saja akan jadi pengalaman personal yang sulit ditapaktilasi. Aku menyukai bagaimana pasangan itu menghargai hal-hal kecil nan sederhana di berbagai tempat yang jauh dan megah itu, yang langit, jalanan, rerumputan, bunga-bunga, pohon, dan manusia-manusianya kita sangka sangat berbeda dengan yang selama ini kita kenal di negara dunia ketiga ini.
Beruntunglah mereka yang bisa melakukan perjalanan dari tempat ke tempat dengan leluasa dan membawa oleh-oleh yang langka semacam itu. Beruntunglah aku dan Han yang tidak terlalu ke mana-mana tapi tidak juga kehilangan kecintaan pada hal-hal remeh temeh itu, remah-remah keseharian yang terasa begitu pentingnya. Sesekali kami pun pergi agak jauh, duduk di tempat yang tidak mengejutkan, lalu mengobrol, mengobrol, mengobrol…
Obrolan panjang atau diam yang tidak kosong menjadikan tempat sering lesap, bahkan waktu. Bertahun-tahun, memilih sebuah tempat untuk pacaran masih jadi masalah pelik bagiku dan Han sampai kini. Mungkin inilah “masalah” Taurus yang lain: sulit beralih sat sudah menemu suatu hal yang cocok. Haha. Rasanya, asal bersama Han, di manapun dan bagaimanapun tidak masalah. Tawa sangat mudah diciptakan bersamanya. Jadi, dalam keadaan paling nelangsa pun, hikmah tawa masih dapat dipetik.Selama tujuh tahun bersama, kehidupan kami berkutat di kampus dan angkringan (Pak Min, Pak Hono, lalu di angkringan Mas Joko di dekat Café Libaririe yang sambelnya mantap benar pedasnya). Kadang-kadang, kami jadi bordjuis ketjil di KFC atau Warung steak kalau lagi berduit. Warung-warung makan masih lebih sering jadi pilihan karena kami masih terpisah jarak, dan makan masihlah adegan tepat untuk menyambungkan banyak hal. Toko buku tak pernah menyediakan tempat nyaman untuk mengobrol dan tempat yang terlihat nyaman memiliki menu aneh-aneh yang membuat kami khawatir mendapatkan kejutan.
Aku tidak heran tahun-tahun berlalu dalam ritme yang hangat dan menyenangkan karena dari tempat-tempat yang sangat biasa dan nyaris sama selama ini, kami menumbuhkan bunga-bunga yang berbeda di setiap obrolan.
Hari ini Han berulang tahun—dia sepuluh hari lebih muda dariku dan ini akan jadi perseteruan seumur hidup dengannya. Haha—dan menulis panjang untuknya di hari yang “biasa” ini terasa menyenangkan.
Aku yang selalu berdiam di hatinya tidak ingin putus mendoa demi kebaikan dan keselamatan panjang untuknya.[]
Selesai ditulis dan digambari pada 14 Mei 2020
Selesai diketik dengan sedikit tambahan di sini dan di sana pada 17 Mei 2020
Na’imatur Rofiqoh / Nai Rinaket






Komentar
Posting Komentar