Kunjungan Sekejap ke Diri Sendiri
Kukira aku sudah tidak memiliki keinginan untuk kembali ke sini, tapi, inilah yang terjadi. Setiap kali membuka rumah yang lebih sering aku abaikan ini, selalu saja ada sejumput gairah yang sangat kukenal sejak aku memulai kalimat pertama sembilan tahun silam. Sayup-sayup, aku masih bisa mendengar suaraku sendiri berkata, "Aku ingin menulis! Aku harus menulis!"
Aku tidak begitu tahu lagi hidup seperti apa yang sedang aku jalani ini. Bertahun-tahun lalu di masa remajaku, aku selalu tahu kalau aku akan jadi penulis dan akan menghabiskan seumur hidupku dengan menulis (cerita-cerita menggentarkan). Saat ini, aku bisa mengatakan kalau aku sudah jadi penulis sejak kelas lima SD, sejak buku kumpulan cerpenku terbit di sebuah buku tulis bersampul kertas dluwang cokelat, dengan judul "Buku Mengarang." Tapi aku yang dulu tentu saja tidak bisa berpikir begitu. Seseorang baru sah menjadi penulis kalau bukunya sudah diterbitkan oleh penerbit (mayor) dan dikenal oleh khalayak ramai.
Betapa pandanganku telah begitu berubah. Sekarang, kalau hanya ingin menerbitkan buku, aku bisa melakukannya sendiri, dari menulis sampai mendesain halaman awal sampai akhir, juga mengurus cetaknya. Tapi, satu hal yang tidak aku miliki sekarang dan sangat kurindukan dari diriku yang menulis dan menggambar di atas buku tulis (karena aku nggak pernah tahu ada yang namanya buku sketsa) dulu: keluguan mencipta.
Kesadaran akan konteks lebih besar yang menaungi keinginan menjadi penulis dan ilustrator menghentikan banyak hal dalam diriku, bahkan sebelum aku berani memulai. Saat mengetik ini pun, ada bagian diriku yang mengatakan, aku tidak seharusnya lagi memikirkan hal-hal seperti ini, apalagi hal-hal yang hanya berpusat pada diri sendiri. Oh, betapa sulit rasanya hanya untuk mengeluh pada diri sendiri. Segalanya terasa salah. Pikiran-pikiran yang dulu bisa aku percayai seolah pasti kini mengkhianatiku.
Tentu saja, aku tidak membutuhkan ini semua untuk hidup di abad ke-21. Ah, aku jadi agak lega menjadi generasi-antara. Bahasa ini terlalu rumit untuk dimengerti generasi masa kini dan terlalu tidak berarti untuk dibaca para orangtua. Selamat datang kembali di diri sendiri, rumahmu yang abadi.

Komentar
Posting Komentar