Pengadaan Keraguan di Perjalanan
Buat Ve
Bagaimana lagi, setiap kembali ke rumah yang satu ini, aku tiba-tiba seperti menjadi anak kandung kesedihan. Di hadapan kata-kata ini, rasanya aku selalu menjadi orang ketiga yang melihat diriku sendiri dari jarak tertentu dengan tatapan agak sendu tapi juga kukenal dengan amat baik. Seseorang pernah berkata setelah aku menyampaikan sebuah berita, "Pokoknya, pokoknya, jangan kehilangan dirimu!" Aku tidak tahu, sejelas apa diriku baginya. Bagiku sendiri, rasanya aku tidak pernah selesai menjadi diriku, bahkan sekarang, dan sudah entah sudah kali keberapa aku kehilangan diriku. Dia terus saja mengkhianatiku saat sepertinya segalanya berjalan baik, kecuali, untungnya, di tempat ini.
Kali ini, aku kembali setelah memutuskan satu hal besar dalam hidupku: pindah (dalam makna paling luas). Aku benar-benar akan meninggalkan sepetak kamar kos yang sudah kutinggali nyaris selama lima tahun itu, tahun-tahun bangkrut tapi penuh gairah belajar. Selamat berpisah, kasur kempis tempat aku berbaring bersama Ve, ngobrol ratusan malam sampai hampir subuh sambil menatap kardus alas lantai dua (alias dipan tingkat di atas kami); dadah kucing-kucing kos, objek pergunjingan para penghuninya seperti menggunjingkan tetangga sebelah; lemari pakaian yang kotak-kotaknya tidak memisahkan apa-apa karena,"Kamu mau aku lungsuri ini nggak?" atau,"Jaket ini buatku aja."; selamat tinggal, selamat tinggal tempat perayaan-perayaan kecil atas berbagai suka dan dukacita yang tak terhitung banyaknya. Ah, siniar Asisten Kamar Tangga yang tidak populer juga lahir di kamar itu karena itulah satu-satunya kekayaan kami selain doa dan semoga: kata-kata, alias obrolan omong kosong tiada akhirnya. Hahaha!
Kalau kupikir-pikir, rupanya, bukan kelaparan di kos yang paling aku takutkan. Terbiasa makan dua kali sehari dan sempat berpelukan ngakak sampai keluar airmata karena tidak sanggup beli lauk untuk makan bersama Ve membuatku berteman baik dengan rasa lapar. Haha, romantisasi kemiskinan kadang terasa menyenangkan dan perlu agar dia tidak terlalu terasa mencekik seperti kemiskinan literal tanpa makna ya, Bund. Humor gelap demi humor gelap berlalu, dan hal paling menakutkan bagiku tetap saja kemandhegan pikiran, tubuh yang tidak tergerak dan bergerak... Wih, heroik benar kata-kata ini, sampai tidak sanggup aku meneruskan.
Aku ingin terdengar sangat percaya diri seperti di rekaman penanda pindah kami pada episode Asisten Kamar Tangga terbaru (yang tentu saja belum meluncur ke khalayak saat catatan ini ditulis), tapi semakin tua, kemampuan berpengharapanku ternyata juga semakin penuh pertimbangan. Setidaknya aku jadi sedikit tahu diri mana hal-hal yang pantas aku harapkan dan tidak. Wah, brengsek benar! Apa pandemi dan kutukan hidup di negara lupa diri ini membuat harapanku pupus sedemikian rupa sehingga? Iya. Tapi nggak apa-apa.
Setidaknya, aku, kami sudah berhasil memutuskan satu hal untuk hidup kami. Tinggal melangkah gagah dan mengadakan keraguan di waktu tertentu, lalu kadang mundur satu dua langkah, dan yang terpenting, melanjutkan langkah demi langkah yang kami tahu pasti lebih akan kami sesali daripada tidak pernah kami lakukan. Setidaknya, aku merasa agak lebih lega karena tidak sendirian saat mengambil keputusan ini. Hah, di saat-saat seperti ini dan seterusnya, memiliki satu saja teman yang bisa diajak bicara memang sudah seperti menang atas separuh dunia. Thanks, Cuk.
__________
Catatan tambahan tidak penting: Bermula menonton pidato Kim Namjoon di PBB, sekarang aku ikut dalam barisan paling belakang Army, bersorak merayakan BTS. Heran, deh, orang-orang pada merasa keren kalau tidak suka sama BTS. Padahal, bukan pekerjaan mudah lho, menemukan tujuh helai jerami paling baik di antara tumpukan jerami budaya pop di jagat raya ini. Hahaha!

Komentar
Posting Komentar