Berbekal Pertanyaan

Satu hal yang aku sesali selama tahun-tahun pendidikan formalku berlangsung adalah tidak ada yang mengajariku bagaimana cara bertanya. Padahal, baru aku sadari kata-kata ini tepat belaka: sebuah pertanyaan yang tepat adalah setengah kebenaran. Dari tahun ke tahun, barangkali tanpa kita sadari, kita hanya hidup dengan berusaha beranjak dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain. 

Saat kecil, pertanyaan-pertanyaan itu berkisar antara ingin makan apa atau pilih baju mana. Di masa remaja, kita mulai bertanya-tanya bagaimana rasanya cinta. Agak bertambah umur, kapan menikah, kapan berumah. Lebih tua lagi, kapan memiliki anak, kapan naik pangkat, bagaimana cara menjadi lebih kaya, dan sejenisnya. Bertambah tahun, daftar pertanyaan bertambah, berubah, atau (malangnya) terhenti. Beruntunglah sedikit manusia yang sampai pada pertanyaan-pertanyaan lebih esensial: bagaimana aku harus menjalani hidup, misalnya—sebuah pertanyaan yang barangkali sangat klise tapi perlu seumur hidup menjawabnya.

Tentu kita memiliki pertanyaan penting kita sendiri. Namun, kita bisa membayangkan betapa berbeda cara hidup seseorang yang seumur hidup berusaha menjawab pertanyaan "bagaimana agar aku kaya raya" dengan orang yang berpikir "bagaimana caraku memberi manfaat pada orang lain", atau "bagaimana agar aku cepat memiliki anak" dengan "bagaimana agar aku bisa mendidik anakku kelak dengan tepat." Berangkat dari pertanyaan yang tepat adalah bekal penting untuk mengarungi perjalanan hidup yang panjang ini. 

Itulah yang semakin aku rasakan di kelas pertama fondasi CM kemarin. Teman-teman datang dengan membawa berbagai pertanyaan. Di kelas, Mbak Ayu memberi jawaban justru dengan mengajukan pertanyaan mendasar: apakah manusia itu? Meski sudah mendengar jawabannya dari perspektif CM, aku sendiri belum benar-benar tahu. Tapi, yang jelas, pertanyaan itulah yang bakal menuntun kita sepanjang jalan pencarian menuju sebuah cara hidup yang kita yakini lebih pas untuk kita jalani, untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang apakah manusia itu, apakah kita ini. Sebuah pertanyaan yang tepat juga akan menuntun kita ke pertanyaan-pertanyaan tepat lain, ke jalan-jalan yang lebih tidak pasti akhirnya, tapi kita tahu itu jauh lebih berarti untuk dijalani.

_

Catatan kecil:

Narasi tertulis ini adalah tugas pertama dari Kelas Fondasi Charlotte Mason Batch 12 yang kuikuti selama bulan Oktober. Kelas berlangsung selama empat minggu, diampu oleh Ayu Primadini, salah satu praktisi Charlotte Mason yang telah menggeluti metode ini selama hampir satu dekade. Saat Ini, Mbak Ayu tinggal di Jakarta.

Charlotte Mason (1842-1923), biasa disingkat CM, adalah pemikir pendidikan Inggris yang pernah sangat terkemuka pada masanya.  Setelah wafat, nama CM tenggelam seiring menguatnya gelombang sekularisme Eropa. Baru ketika gerakan homeschooling (HS) menguat di Amerika Serikat, ide-idenya digali kembali dan melejit menjadi salah satu metode HS paling populer – khususnya di kalangan orangtua yang menghasrati konsep pendidikan yang progresif tapi tetap religius (Ellen Kristi dalam situs PHI).

Komentar

Postingan Populer