Biasa Menjadi Biasa

Harta karun itu sebuah peribahasa: alah bisa karena biasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat (2014), "biasa" berarti "1 lazim; umum; 2 spt sediakala (sbg yg sudah-sudah); 3 sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dr kehidupan sehari-hari; 4 sudah seringkali". Pada kata "bisa" dan "biasa", kamus mencontohkan peribahasa yang sama: "sesuatu yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi; kalah kepandaian oleh latihan."

Kata "biasa" jadi terdengar agak tidak biasa. Dia ternyata tetesan air yang mampu meremukkan batu paling keras sekalipun. Tapi, tidak banyak yang mau menjadi air yang tekun, ngeyel, atau bisa juga dikatakan gila: melakukan satu hal sama terus menerus secara konstan, mungkin sampai membikin sang waktu sendiri bosan, lalu menuai hasil sepadan. Kebanyakan kita ingin dan berharap pada anak-anak kita untuk menjadi "luar biasa": di luar yang biasa; out of the box; anti-mainstream. Tapi sekali lagi, tapi. Tapi, kita melihat kredo "di luar kotak" menjelma laku yang sering terasa di luar nalar. Daftar hal-hal (di) luar biasa yang telah dilakukan manusia Indonesia dan bisa kita pertanyakan apa maknanya sangat mudah kita temukan di Museum Rekor Indonesia (MURI).

Aku masih ingat, sebuah kampus negeri di Solo membuat sebuah buku (dengan lembar-lembar kosong) berukuran raksasa (dan tak bisa dibaca) hanya demi berada di luar kelaziman dan dicatat oleh MURI. Orang-orang berlomba demi label "ter-", "paling". Pada hal-hal yang lebih dekat, tidak sulit mendapati orangtua begitu bangga pada anak yang bisa membaca pada usia sangat dini atau melakukan hal-hal lain di luar lazimnya usia itu. Biasanya, semakin banyak yang bisa dilakukan oleh anak di usia semakin muda, semakin baik terasa. Padahal, membaca dan mengeja adalah dua hal berbeda. Semua anak Indonesia bisa bebas buta huruf, tapi tidak semua benar mengerti apa yang dia baca. Anak yang bisa berjalan pada usia 6 bulan ternyata pada akhirnya memiliki keahlian berjalan yang sama dengan anak yang mulai melakukannya pada usia 12 bulan. 

Kadang-kadang kita pun silap memberi pengertian pada hal-hal biasa. Dalam frasa "luar biasa" yang secara literal menampakkan artinya, kita sering melupakan kata "biasa" di dalamnya. Hal-hal besar selalu tersusun, bahkan berfondasi hal-hal biasa nan sederhana. Kita begitu takjub melihat batu terbelah karena tetesan air, lalu berhenti di sana. Kalau kita tahu telah berapa lama air menetes di sana dan berapa jumlah tetesan yang telah dia jatuhkan pada batu, kita mungkin bakal membelalak tak percaya.

Kita lupa, air telah memiliki "kebiasaan" yang memberinya kekuatan lebih keras daripada batu. Dalam kamus yang sama, "kebiasaan", kata turunan dari "biasa" ini berarti "sesuatu yg biasa dikerjakan". Kita bisa dengan mudah menautkan "kebiasaan" dengan peristiwa harian: mandi, makan pagi, bekerja, tidur siang, membaca, menyiram tanaman, menjahit, dan seterusnya. Beberapa di antaranya telah menjadi kebiasaan yang sulit dicegah seperti mandi setidaknya satu kali. Tapi, berapa dari kita yang benar-benar sungguh-sungguh dalam kesadaran penuh memiliki sebuah kebiasaan yang kita lakukan dengan konstan di jam yang sama setiap hari? Sebagain dari kita bahkan tidak tahu mengapa kita harus, misalnya, sarapan di jam yang sama setiap hari selama dua puluh tahun ke depan.

Di sisi lain, pada abad ke-18, warga kota Konigsberg, Prusia, bahkan bisa menggunakan kebiasaan berjalan Kant tiap pagi sebagai penanda waktu. Ini kata Wikipedia: "Kant dikenal dengan hidupnya yang sangat disiplin. Setiap hari ia jalani dengan jadwal yang sudah sangat tersistematisasi. Orang konon bisa menebak dengan mudah pada jam/waktu ini ia berada di mana dan sedang melakukan kegiatan apa. Kedisiplinan hidup inilah yang memungkinkan Kant menulis begitu banyak karya yang fenomenal." Kita pun ingat Hatta yang hidupnya juga bertelekan pada kebiasaan "membosankan". Setiap hari, dia akan bangun pagi, sarapan, bekerja, tidur siang, lanjut bekerja di jam-jam sama. Pada mulanya, mungkin agak sulit bagi kita melihat tautan erat antara berjalan kaki dengan Immanuel Kant atau sarapan pagi dengan Hatta, tapi begitulah kekuatan kebiasaan membentuk mereka selama puluhan tahun, senada dengan kata Charlotte Mason, "Kebiasaan sepuluh kali lipat lebih kuat dibanding sifat bawaan."

Kita berasal dari spesies yang sama dengan Kant dan Hatta. Bahkan bisa dibilang kebiasaan kita secara umum tidak begitu berbeda dengan mereka, setidaknya dalam hal-hal pokok: makan, tidur, bekerja. Tapi, ya, ya, mereka telah berhasil "menyiasati" waktu. Waktu tersenyum dan menjadi teman ngobrol yang baik ketika berjalan bersama mereka. Waktu tidak pernah mengejar kita seperti dalam frasa "dikejar deadline."

Orang-orang tertentu memang lebih cerdas untuk memilih menjadi manusia biasa saja.

 _

Catatan kecil:

Narasi tertulis ini adalah tugas ketiga dari Kelas Fondasi Charlotte Mason Batch 12 yang kuikuti selama bulan Oktober. Kelas berlangsung selama empat minggu, diampu oleh Ayu Primadini, salah satu praktisi Charlotte Mason yang telah menggeluti metode ini selama hampir satu dekade. Saat Ini, Mbak Ayu tinggal di Jakarta. 

Charlotte Mason (1842-1923), biasa disingkat CM, adalah pemikir pendidikan Inggris yang pernah sangat terkemuka pada masanya.  Setelah wafat, nama CM tenggelam seiring menguatnya gelombang sekularisme Eropa. Baru ketika gerakan homeschooling (HS) menguat di Amerika Serikat, ide-idenya digali kembali dan melejit menjadi salah satu metode HS paling populer – khususnya di kalangan orangtua yang menghasrati konsep pendidikan yang progresif tapi tetap religius (Ellen Kristi dalam situs PHI).

Komentar

Postingan Populer