Terlatih Melakukan Hal Kecil
Tiap kali berangkat tidur di malam (atau dini) hari, aku selalu berkata dalam hati, “Besok, aku harus bangun pagi.” Namun, setiap hari musuh besar pertama dan bebuyutanku adalah pagi. Pagi hari berhenti menjadi milikku setelah aku lepas dari sekolah formal. Setelah lulus dan tidak ada lembaga apapun yang mengatur pagiku, juga karena aku bekerja lepas, pagi hampir selalu terasa seperti mimpi. Ia adalah cita-cita yang sulit tercapai.
Beberapa orang terdekat telah entah berapa kali memberi petuah betapa berkhasiatnya bangun pagi. Telah dilakukan berbagai penelitian dan dituliskan dalam sejarah, betapa pagi adalah waktu yang vital. Segalanya bermula pada pagi hari. Ayam di belakang rumah tak pernah tiba-tiba jadi gila dan berkokok pukul delapan pagi. Soekarno pun disebut sebagai Putra Sang Fajar, bukan Putra Sang Siang, apalagi Putra Sang Senja. Kudengar lagi pepatah itu: early birds catch the worm. Pun telah aku tuliskan di tembok tripleks kamar kos yang kuhuni selama empat tahun: Berikan pagimu pada huruf-huruf. Hasilnya, nihil. Sepertinya aku telah dikutuk untuk tidak boleh bertemu matahari pagi.
Aku hampir yakin bahwa pagi tidak akan pernah menjadi milikku adalah takdir, qada dan qadar dari Allah SWT kalau saja Kelas Fondasi CM minggu kedua lalu tidak membahas sebuah kata serius: prinsip. Malam itu, judul kelas adalah Prinsip Pendidikan Charlotte Mason. Mbak Ayu membacakan paragraf demi paragraf, sekali saja dan dilarang ada pengulangan, lalu kami bergiliran diminta melakukan narasi lisan. Kuocehkan pada teman-teman, “Sepertinya hidupku masih berada dalam prinsip kemalasan dan kelambanan.” Beberapa pertanyaan pancingan dilontarkan Mbak Ayu, kujawab, lalu kelas berlanjut. Sama seperti minggu sebelumnya, kelas kali ini pun meninggalkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang mengendap lama dalam diri.
Aku mencoba menautkan cara hidupku 27 tahun belakangan dengan kata “prinsip”. Kurasa, masa gemilangku memanglah antara SD sampai SMP. Cita-cita saat itu begitu sederhana. Belajar dengan baik, mendapatkan juara, lalu bisa melanjutkan ke sekolah (teranggap) paling baik agar bisa membahagiakan orangtua. Orangtua pun menaruh perhatian paling besar pada kegiatan itu: belajar. Tidak ada perdebatan bagaimana caraku belajar. Itu sudah jelas: menghadapi buku pelajaran dari sekolah, mengerjakan soal-soal yang ada di sana. Waktu-waktu di luar jam belajar adalah milikku sepenuhnya, terserah mau kuapakan. Aku sudah lupa membuang waktu-waktu itu untuk apa.
Hidup berjalan baik sampai aku memaksa orangtuaku mengizinkanku hidup di kos sejak kelas tiga SMP. Di kos, aku mesti mengatur segalanya sendiri: kapan waktu bangun tidur, makan, sekolah, mencuci baju, mengatur uang saku, main dengan teman-teman, dan seterusnya. Selama lebih dari satu dekade hidup dari satu kamar kos ke kamar kos lain, satu hal vital yang aku sadari adalah: aku tidak terlatih melakukan hal-hal kecil sejak awal. Semakin tahun, tentu saja aku dipaksa keadaan untuk bisa mengatasi banyak hal sendiri. Hanya saja, aku tidak begitu tahu sejak awal mengapa aku mesti melakukan ini, itu, dan apakah sejak awal begini caranya. Pendidikan yang selama ini aku jalani, dan sangat mungkin dialami juga oleh jutaan anak Indonesia pada umumnya, tidak begitu memberi perhatian pada hal-hal kecil penting di luar perkara akademis. Setelah lulus kuliah, kalimat selamat datang yang diterima oleh mantan mahasiswa Indonesia pada umumnya adalah “selamat datang di dunia nyata.” Batas kenyataan antara “anak sekolah” dan bukan begitu kentara seolah-olah ruang-ruang kelas Indonesia berlangsung di alam yang begitu berbeda dengan di luar bangunan sekolah. Sekolah tidak memberi pelatihan bagaimana memilih sayur dan buah yang baik, bagaimana mesti bersikap pada ketidakmampuan orangtua memenuhi keinginannya memiliki gawai terbaru, atau bagaimana memiliki kecintaan pada pengetahuan alih-alih pada betapa seorang guru pandai membuat murid betah di kelas.
Idealnya, anak akan memiliki bekal yang mumpuni untuk melanjutkan dan membentuk hidup mereka sendiri usai menempuh suatu sistem pendidikan. Namun, seperti banyak yang terjadi, begitu keluar dari sistem pendidikan yang selama ini “melindunginya”, anak sering babak belur dalam waktu singkat dihantam kenyataan yang teramat berbeda dengan yang terpampang dalam kelas-kelas mereka. Pelatihan yang telah mereka terima selama masa pendidikan seakan-akan gagal total membekali dirinya menghadapi cara kerja dunia yang sama yang selama ini juga mereka tinggali.
Barangkali, ini juga karena pendidikan, seperti dalam salah satu prinsip pendidikan Charlotte Mason, “adalah atmosfir, bukan berarti mengurung anak-anak dalam suatu lingkungan buatan yang khusus dirancang bagi anak-anak, namun memanfaatkan kesempatan-kesempatan dalam lingkungan alamiah anak sehari-hari dan membiarkannya belajar dari orang-orang dan benda-benda di sekitarnya secara bebas. Belajar dari hal-hal nyata di dunia nyata. Lingkungan buatan justru menghambat perkembangan kepribadian anak.” Inilah yang tidak terjadi dalam masa pelatihanku selama 17 tahun lewat sistem pendidikan yang aku jalani.
Butuh jalur di luar sistem pendidikan resmi negara dan tahun-tahun panjang untukku menyadari bahwa pendidikan (aku masih tidak tahu dengan benar apa maksud kata ini) mestinya memampukan seseorang berdiri di atas kaki mereka sendiri, sadar benar bagaimana cara hidup sebagai bagian dari tidak hanya sekelompok spesies bernama homo sapiens; tapi ia juga bersanding setara dengan rumput teki di pinggir jalan dan burung-burung yang suka nongkrong di kabel listrik, menghirup udara dan air serupa.
Sampai saat narasi ini menemui akhirnya, aku pun masih tahu pasti, besok aku sepertinya masih akan gagal bangun pagi. Namun, sekarang aku tahu mengapa ini terjadi dan apa yang mestinya bisa kulakukan untuk mengatasinya. Besok, seperti juga hari-hari di tahun-tahun sebelumnya, aku masih akan berkutat dengan bencana dan prestasi harian: bangun pagi, menyapu, membaca (oh, astaga!), menulis (ya ampun!), mencuci, menggambar, makan, mandi pada waktu baik sesuai banyak saran ahli, dan hal-hal kecil lainnya.
_
Catatan kecil:
Narasi tertulis ini adalah tugas kedua dari Kelas Fondasi Charlotte Mason Batch 12 yang kuikuti selama bulan Oktober. Kelas berlangsung selama empat minggu, diampu oleh Ayu Primadini, salah satu praktisi Charlotte Mason yang telah menggeluti metode ini selama hampir satu dekade. Saat Ini, Mbak Ayu tinggal di Jakarta.
Charlotte Mason (1842-1923), biasa disingkat CM, adalah pemikir pendidikan Inggris yang pernah sangat terkemuka pada masanya. Setelah wafat, nama CM tenggelam seiring menguatnya gelombang sekularisme Eropa. Baru ketika gerakan homeschooling (HS) menguat di Amerika Serikat, ide-idenya digali kembali dan melejit menjadi salah satu metode HS paling populer – khususnya di kalangan orangtua yang menghasrati konsep pendidikan yang progresif tapi tetap religius (Ellen Kristi dalam situs PHI).

Komentar
Posting Komentar