Saya Harus Berhenti Menulis

Dua film yang sangat saya sukai berjudul Whisper of The Heart (Yoshifumi Kondo, 1995) dan About Time (Richard Curtis, 2013). Dua film ini sepertinya agak bisa menjelaskan beberapa bagian dari diri saya. Whisper of The Heart atau Bisikan Hati, film animasi dari Studio Ghibli ini berkisah tentang dua remaja sekolah menengah yang berusaha mengisi sejenis kekosongan dalam diri masing-masing. Ini memang masa-masa genting saat beberapa pertanyaan krusial menghampiri, seperti, “Apa yang ingin kamu lakukan untuk hidup?” sekaligus masa ketika seluruh vitalitas diri merekah, termasuk dalam hal asmara. Film dikisahkan dengan cara yang bagi saya agak naif khas masa muda tapi sekaligus penuh pengharapan. Saya selalu masih merasa punya kesempatan untuk memulai hidup kembali ketika mengingat film ini.


Di About Time, saya sangat menyukai cara Sang Waktu, variabel yang “aneh” dalam hidup kita ini, diceritakan dari sudut pandang tokoh utama yang—saya senang sekali—bukan pahlawan dan tidak sedang dituntut untuk menyelamatkan dunia. Tim, tokoh kita ini, mewarisi kemampuan turun-temurun menjelajah waktu di keluarganya, dan yang ingin dia inginkan adalah memiliki pacar. Konflik dalam film berkisar antara hal-hal keseharian yang umum terjadi pada kita: pedekate, konflik keluarga yang wajar, pernikahan, pekerjaan, dan seterusnya. Hal yang menjadi perbedaan hanyalah dia memiliki kesempatan untuk “mengoreksi” hidupnya karena bisa kembali ke masa lalu. Tapi hal-hal tidak semudah kelihatannya. Sekalipun Tim dalam beberapa hal menjadi penguasa waktu, dunia tidak bisa berada dalam genggamannya. Bagi saya, keseluruhan film ini akhirnya sampai pada simpulan kecil, penting, dan sering terabaikan untuk hidup dengan segenap daya dari hari ke hari, menangani-menikmati insiden-insiden keseharian yang menyertainya.


Film, musik, dan buku tertentu memang kerap meninggalkan sesuatu dalam diri saya, membuat saya melamun-lamunkan dengan apa yang terjadi pada saya dan hidup yang saya jalani. Kadang, suatu bacaan bisa sangat menggugah sampai membuat saya menyadari sesuatu, lalu merencanakan banyak hal. Saya diliputi kegembiraan dan gairah Chisuzu, Seiji, dan Tim untuk merencanakan hari-hari esok yang lebih gemilang. Saya suka diri saya yang seperti ini, tapi sepertinya perasaan semacam ini semakin jarang saya peroleh.


Hal-hal yang terjadi selama 27 tahun hidup saya ini—yang tidak juga saya ingat dengan jelas detailnya—telah membolak-balikkan cara pandang saya, namun saya belum juga merasa “mapan”. Dalam beberapa waktu setelah lulus kuliah dan belum menikah, pernah saya merasa mandheg. Saat itu, saya memiliki pekerjaan yang saya sukai. Saya memiliki buku-buku yang siap menjadi teman saya, seperti yang saya cita-citakan semasa kecil—saya ingin memiliki sebuah perpustakaan, dan sepertinya saya sudah memiliki apa yang saya butuhkan untuk bertahan hidup. Tapi, masih juga terasa ada yang kurang.


Setelah kelas pekan ketiga bersama teman-teman, agaknya saya agak tahu mengapa. Dalam beberapa hal, say memiliki beberapa pengetahuan tentang apa yang mesti saya lakukan. Saya telah tergugah oleh sebuah atau dua buah ide. Tapi, dalam keseharian yang nyata, banyak pengetahuan itu teronggok saja di sebuah tempat dan baru saya jamah lagi setelah saya mengalami sesuatu yang sejak beberapa tahun terakhir saya sebut sebagai “bencana harian” akut. Penyesalan selalu datang tiap saya bangun siang, sampai sekarang. Tapi saya juga dengan mudah melakukan hal yang sama besok, besok, dan besoknya lagi. Kadang, meski sudah memiliki banyak buku dan membaca sebagiannya, jalan di hadapan saya masih terasa gelap.


Mungkin karena melihat diri saya yang berulangkali gagal dalam tindakan inilah, salah satu orang yang sering memasuki ingatan saya adalah Mbah Sadiman. Selama tiga dekade, sendirian, dia menanami sebuah bukit di Bulukerto, Wonogiri, agar desanya bebas dari kekeringan dan banjir bandang. Orang-orang dan negara ramai-ramai mendatanginya untuk melakukan hal konyol: memberinya penghargaan. Orang-orang telah beranjak dari Mbah Sadiman, kembali ke kehidupan mereka yang kering dan penuh kata-kata obralan. Tapi, hutan yang sekarang dinamai Hutan Sadiman itu menjelaskan hal yang jauh lebih penting soal hidup dan cara hidup, tanpa kata-kata.


Ah, kadang terpikir juga oleh saya. Betapa jauh jarak antara, misalnya, sebuah tulisan environmentalis dengan orang-orang yang tinggal di dekat bantaran kali, yang terusir dari tanahnya, yang menderita kekeringan, mungkin juga dengan mereka yang menebang pohon-pohon demi pembangunan. Betapa manusia-manusia yang dicap “terdidik” gagal sama sekali di hadapan dinamika masyarakat terdekat di sekitar mereka. Apakah orang-orang ini gagal belajar? Apakah para guru, dosen, dan manusia-manusia berilmu tinggi dan terdidik itu telah gagal mewariskan ilmunya mereka, pada saya, atau saya yang terlampau bodoh? Apakah saya juga telah gagal belajar?


Saya tidak sanggup meneruskan narasi ini lebih lama lagi. Semakin kata-kata ini bertambah, semakin jelaslah terasa malu saya. Saya harus berhenti menulis dan melangkahkan kaki menangani cucian yang telah menunggu. 

 _

Catatan kecil:

Narasi tertulis ini adalah tugas pertama dari Kelas Fondasi Charlotte Mason Batch 12 yang kuikuti selama bulan Oktober. Kelas berlangsung selama empat minggu, diampu oleh Ayu Primadini, salah satu praktisi Charlotte Mason yang telah menggeluti metode ini selama hampir satu dekade. Saat Ini, Mbak Ayu tinggal di Jakarta. 

Charlotte Mason (1842-1923), biasa disingkat CM, adalah pemikir pendidikan Inggris yang pernah sangat terkemuka pada masanya.  Setelah wafat, nama CM tenggelam seiring menguatnya gelombang sekularisme Eropa. Baru ketika gerakan homeschooling (HS) menguat di Amerika Serikat, ide-idenya digali kembali dan melejit menjadi salah satu metode HS paling populer – khususnya di kalangan orangtua yang menghasrati konsep pendidikan yang progresif tapi tetap religius (Ellen Kristi dalam situs PHI).

x

Komentar

Postingan Populer