Catatan Akhir Tahun 2021

Kalau tahun 2021 adalah sebuah pertunjukan, aku hanya ingat dua adegan bagus: masih memiliki teman untuk mengobrol sampai pagi dan berhasil memaksa pacarku menikahiku. Sisanya adalah adegan-adean buruk yang dimainkan oleh aktor paling amatir di antara yang paling amatir.

Catatan harian yang hampir tidak mendokumentasikan apapun sepanjang tahun lalu mencatat tiga hal besar yang menghampiriku: kematian, penghancuran besar-besaran diri sendiri, dan pelarian diri ke pernikahan. Aku harap ingatanku bekerja dengan lebih baik daripada ini.

Aku hanya bisa mengingat awal tahun bersama V lagi di petak kamar kos Asrama Pekerja Wanita. Dia bekerja untuk Jakarta dari Solo, dan aku dipenuhi kemarahan besar pada  kehidupan literer yang dulu sempat kujalani. Pekerjaan berjalan lamban, waktuku banyak sekali habis untuk tidur, aku berhenti membaca buku, lalu memutuskan belajar merajut. Hari-hari terasa limbung. Mungkin dia tidak tahu, tanpa kehadiran seseorang untuk diajak bicara sepanjang waktu, aku mungkin sudah benar-benar kehilangan diriku. Dia sudah menyelamatkan diriku dengan berbagai cara tanpa dia ketahui--hanya dengan kehadiran dan kesediaan menanggapi ocehanku, juga dalam banyak hal yang gagal aku lakukan untuk menjadi seorang teman yang layak. 

Hubunganku dengan Han juga memasuki semacam babak baru. Dia diterima di sebuah situs web olahraga dan bekerja delapan jam setiap hari, kecuali saat libur. Kami mulai memikirkan pernikahan.... dan mau dipikirkan dari sudut manapun, pernikahan sungguh sulit terjadi jika hanya bermodal kami. Entahlah, kami memang bangkrut sepanjang waktu. Tapi, dengan kekuatan kultur keluarga Indonesia dan modal orangtua, kami toh tetap menikah pada bulan Juli. 

Pernikahan (yang tidak dihadiri oleh teman-teman kami karena pandemi) itu tidak mengesankan. Aku memang menitikkan air mata saat mendengar Han mengucap akad. Selebihnya, aku hanya ingin hari itu segera berakhir lalu bisa memulai suasana hidup yang sama sekali baru, meninggalkan kamar kos yang sudah kuhuni selama lima tahun. Sampai hampir enam bulan pernikahan, V masih merasa pernikahanku seperti mimpi. Aku dan Han tidak merasa ada yang berubah dari kami karena begitu lamanya kami telah bersama. Secara personal, mengingat masa laluku dan banyak peristiwa yang kami alami, aku merasa beruntung dia mau menerimaku yang seringkali awut-awutan dan terlalu banyak mau.

Aku kira begitulah akhirnya, lalu 2021 akan berakhir dengan baik seperti bagaimana aku memutuskan untuk belajar di Bilik kembali sekalipun tempat itu pernah menjadi mimpi buruk buatku. Tapi, tentu saja, selalu ada sesosok "tapi" yang muncul dengan senyum seolah bertanya sinis, "tahu apa kau?" Adegan terburuk sedang dipertunjukkan. Aku tidak hanya mendapatkan satu, tapi dua sekaligus. Dua orang yang aku anggap memiliki pengetahuan yang cukup untuk tahu bagaimana cara menghargai manusia dan perempuan (yang juga manusia) secara setara, hah, seperti fiksi buruk saja, melakukan hal yang persis berseberangan dengan apa yang mereka tulis dan sering katakan.

Apa yang dialami oleh teman perempuanku di Bilik mengingatkanku kembali pada kejadian yang kualami dengan orang yang sama--bangsat, aku tidak bisa mengetik namanya!--berbulan-bulan silam. Ternyata kejadian itu bukan imajinasiku belaka. Aku menceritakannya pada V, dan kenyataan lain menghantamku. Teman, atau orang yang kuanggap teman sebelumnya, juga melakukan kejahatan yang sama padanya. Kami sudah pernah mengobrolkan hal ini jauh sebelumnya: para lelaki yang menggunakan buku-buku dan pengetahuannya untuk merendahkan martabat manusia lain adalah jenis lelaki yang paling menjijikkan. 

Mungkin karena tidak sekali menjadi korban pelecehan seksual sejak masa kanak, aku tidak begitu memedulikan apa yang terjadi padaku. Sama seperti tahun-tahun lalu juga, tubuh yang sempat bergetar bakal kembali kukuh. Mimpi buruk akan berlalu. Tapi sayangnya ingatan tidak hilang meski sudah didamaikan. Menyadari kenyataan bahwa pelaku adalah orang-orang yang sebelumnya kami pedulikan, perlahan ingatan masa lalu itu jadi kemarahan yang sangat besar.

Dulu aku tidak bisa melakukan apapun pada tetanggaku, sepupuku, kakek-kakek yang membalas sapaanku dengan cubitan di bokong saat aku SMP, orang asing yang menyentuh bagian vitalku di kerumunan alun-alun Ponorogo, mas-mas pramuka yang juga menyentuh bagian vitalku di mobil dalam perjalanan lomba atau pemilik tangan yang sekejap meremas dadaku di bus Mira jurusan Solo-Surabaya sewaktu kuliah... Tapi, kali ini aku, kami, mungkin bisa melakukan sesuatu. V sudah dan semoga Tuhan berpihak pada dia dan korban-korban lain si U. 

Tahun 2021 seperti belum berakhir meski 2022 sudah berlangsung selama 14 hari. Aku menulis catatan ini dengan perasaan setengah kebas. Hari-hari sakit kepala dan penuh air mata sudah berlalu. Aku hanya tidak ingin peristiwa terburuk tahun ini lewat tanpa pernah ditulis, dengan buram sekalipun.

Akhir kata, semoga tahun ini bisa berjalan dengan pijakan-pijakan yang mantap dan tegas bersama orang-orang yang tepat.

Komentar

Postingan Populer